Mardianton, S.EI, M.Pd POLITIK DALAM PENDIDIKAN

POLITIK DALAM PENDIDIKAN

Oleh : Mardianton, S.EI, M.Pd

 

  1. Hubungan Politik dan Pendidikan

Pendidikan dan politik adalah dua elemen yang penting dalam sistem sosial politik disetiap negara, baik negara maju maupun negara yang berkembang. Keduanya sering dilihat sebagai bagian-bagian yang terpisah, yang satu sama lain tidak memiliki hubungan apa-apa. Lebih dari itu, keduanya satu sama lain saling menunjang dan saling mengisi. Lembaga-lembaga dan proses pendidikan berperan penting dalam membentuk prilaku politik masyarakat dinegara tersebut. Begitu juga sebaliknya, lembaga-lembaga dan proses politik disuatu negara membawa dampak besar pada karakteristik pendidikan di negara tersebut. Ada hubungan erat dan dinamis antara pendidikan dan politik disetiap negara. Hubungan tersebut adalah realitas empiris yang terjadi semenjak awal perkembangan peradaban manusia dan menjadi perhatian ilmuan. (Sirozi, 1: 2010)

Di negara-negara Barat, kajian tentang hubungan antara pendidikan  dan politik dimulai oleh Plato dalam bukunya Republik. Walaupun utamanya membahas berbagai persoalan kenegaraan, buku tersebut membahas hubungan antara ideologi dan institusi negara dengan tujuan dan metode pendidikan.

Plato mendemonstrasikan dalam buku tersebut bahwa dalam budaya Helenik, sekolah adalah salah satu aspek pendidikan yang terkait dengan lembaga-lembaga politik. Ia menjelaskan bahawa setiap budaya mempertahankan kontrol atas pendidikan di tangan kelompok-kelompok elite yang secara terus-menerus menguasai kekuasaan [politik, ekonomi, agama dan pendidikan. Plato menggambarkan adanya hubungan dinamis antara aktivitas kependidikan dan aktivitas politik.  Keduanya seakan dua sisi dari satu koin, tidak mungkin terpisahkan. Walaupun sangat umum dan singkat, analisis Plato tersebut telah meletakan fundamental bagi kajian hubungan politik dan pendidikan dikalangan generasi ilmuan generasi berikutnya.

Pendidikan dan politik dua hal yang terkait dan tidak dapat dipisahkan karena keduanya mempunyai hubungan timbal balik. Sehingga dapat menimbulkan tiga aspek. Pertama, pendidikan dapat membentuk sikap kelompok, sebagai contoh setelah Indonesia mardeka partai-partai politik dan lembaga-lembaga pemerintahan dikuasi oleh tokoh-tokoh sekuler Barat. Berbagai macam aturan, pembetukan etika serta penanaman nilai moral terjadi dalam kemompok, sehingga berimplikasi pada kesejahteraan masyarakat. Kedua, masalah pengangguran, bahwa melalui pendidikan manusia dapat mengasah akal dan pikirannya kearah yang lebih baik. Karena bagi negara berkembang masalah pengangguran merupakan masalah penting yang harus segerah diselesaikan, angka pengangguran dapat mempengaruhi sistem dan tatanan pemerintahan. Ketiga, peranan politik dalam kaum cendikia.

Dalam masyarakat modern pada umumnya, pendidikan adalah komoditi politik sangat penting. Proses dan lembaga-lembaga pendidikan memiliki aspek dan wajah politik yang sangat banyak, serta memiliki beberapa fungsi penting yang berdamapk pada sistem politik, stabilitas dan praktik kehidupan sehari-harinya. Pendidikan publik juga bersifat politis karena juga dikontrol oleh pemerintah dan memengaruhi kredibilitas pemerintah. Karena besarnya nuansa politik dari kebijakan-kebijakan pendidikan, maka berbagai faktor politis yang tidak ada hubungannya dengan pendidikan turut memengaruhi berbagai kontrol terhadap pendidikan dan sebagaimana kebijakan pendidikan dibuat.

Politik dalam pendidikan dapat mempengaruhi kecenderungan manusia dalam menghadapi kehidupan. Memperoleh kehidupan lebih baik, layak, apalgi dapat diterima oleh masyarakat sebagai golongan elite yang dapat mempengaruhi pola hidup masyarakat. Pendidikan juga dapat mempengaruhi perkembangan politik dimana manusia memperoleh keinginan mereka dalam sesuatu hal. Perkembangan selanjutnya dalam akses sosial, dan ekonomi.

Dinegara-negara berkembang kaum berpendidikan mudah memperoleh posisi yang lebih baik sehingga dapat mempengaruhi orang lain. Bagi golongan berpendidikan lebih mampu melakukan konsolidasi kekuatan, lalu muncul menjadi kelompok penguasa yang menguasai partai-partai politik dan sektor pelayanan publik. Selanjutnya diskriminasi juga akan terjadi karena kelompok-kelompok berpendidikan dan kondisi budaya setempat.

  1. Aspek-Aspek Dalam Pendidikan

Pendidikan tidak akan terlaksana secara baik bila tidak memandang pada bermacam- macam aspek. Dalam Pendidikan, memang ada beraneka ragam aspek, di antara aspek yang dominan adalah politik dan sosial.

  1. Aspek politik dalam pendidikan

Sebagaimana di maklumi bahwa yang hendak dituju oleh pendidikan nasional ialah pendidikan yang yang menuju kepada masyarakat industri yang tidak terlepas dari tujuan politik ideologi bangsa kita sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang Undang Dasar 1945, Pancasila dan GBHN. Sistem Pendidikan Nasional telah merumuskan dasar, fungsi dan tujuan pendidikan, yaitu : Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945; Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemajuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional; Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekertu luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Apabila dilihat rumusan tersebut di atas, kelihatannya sudah jelas dan sistematik serta merupakan kerangka acuan bagi politik pendidikan nasional dalam semua aspek pendidikan. Sebenarnya rumusan ini merupakan penjabaran dari politik ideologi nasional ke dalam sektor pendidikan. Pada dasarnya pembangunan dalam sektor pendidikan adalah aspek dari pembangunan politik bangsa, yang tidak lain sebagai konsistensi antara arah politik dengan cetak biru pembangunan bangsa yang berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945 (HAR. Tilaar, 2003:161).

Salah satu unsur politik pendidikan yang menunjang kehidupan masyarakat industri modern ialah pendidikan yang memperioritaskan kepada kualitas. Pemberian prioritas kepada kualaitas bukan berarsi suatu sistem pendidikan yang elitis tetapi yang memberi kesempatan kepada setiap orang mengembangkan bakat sesuai kemampuannya dengan. Pendidikan yang selektif untuk rogram yang relevan, pendidikan untuk anak pintar, merupakan program yang perlu dilaksanakan.

Politik pendidikan dengan sadar menyiapkan tenaga yang cukup jumlahnya dan terampil untuk mendukung masyarakat industri perlu dengan sungguh-sungguh disiapkan. Persoalannya ialah masyarakat industri modern yang akan kita bina adalah masyarakat yang adil dan makmur.

Oleh karena itu pendidikan merupakan landasan utama bagi tumbuhnya rasa nasionalisme yang positif. Usaha ini tentu saja harus mendapat perhatian utama dalam pendidikan dasar 9 tahun ( wajar 9 tahun ). Pelaksanaan politik pendidikan ini menuntut cara penyajian yang efektif sesuai dengan taraf pendidikan rakyat dan tumbuhnya kehidupan yang terbuka. Untuk itu metodologi yang rasional dan kritis sangat diperlukan sehingga mampu mengolah berbagai bentuk arus globalisasi.

  1. Aspek sosial dalam pendidikan

Sebagaimana yang telah di ketahui bahwa manusia adalah makhluk sosial (Soscial Being atau homo saphiens ). Kita sebagai manusia dilahirkan ke alam dunia ini dalam kondisi yang lemah, tak berdaya. Karena manusia tidak berdaya, maka dia tidak akan sanggup melangsungkan hidupnya tanpa bantuan orang lain.
Fithrah-potensi manusia yang dibawa semenjak lahir baru dapat dan bisa berkembang dalam pergaulan hidupnya, dan manusia yang dilahirkan itu tidak akan menjadi manusia tanpa pengembangan potensi tersebut sebagaimana yang dikehendaki oleh ajaran Islam. Di antara nash yang menyatakan demikian, dapat dipahami dari surat Al-Hujurat ayat 13, yaitu:

يأيها الناس إنّا خلقناكم من ذكر او انثى و جعلناكم شعوبا و قبائل لتعارفوا

Dari nash tersebut diatas dapat disinyalir betapa pentingnya memperdayakan masyarakat. Untuk memperdayakan masyarakat, yang pertama adalah mengembang kan potensinya. Potensi tersebut dapat dikembangkan adalah melalui pendidikan. Dengan pendidikan, manusia akan berwawasan, mempunyai bermacam ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuanlah yang akan menjadikan seseorang atau masyarakat dapat diperdayakan untuk bermacam-macam kepentingan, baik yang berhubungan dengan pribadinya maupun yang berkaitan dengan masyarakat. Kedua, dengan jalan sosialitas manusia ( social being ), dalam ajaran Islam inilah yang dikenal dengan ta’arafu-berkenalan, menjalin hubungan secara baik. Keadaan seperti itulah yang dikehendaki oleh ajaran Islam sekaligus memperdayakan masyarakat untuk mencapai suatu tujuan, khususnya dalam mengelola pendidikan.

Apabila seseorang telah dapat bergaul dan menyesuaikan dirinya dengan kehidupan kelompoknya,berarti orang tersebut dapat mengenal nilai yang berlaku dalam kehidupan sosialnya, sekaligus memperkembangkan pribadinya. Dengan interaksi sosial itu manusia dapat merealisasikan kehidupannya, sebab tanpa timbal balik dalam interaksi sosial itu, ia tidak akan dapat merealisasikan kemungkinan dan potensi-potensinya sebagai individu ( Gerungan, 1966 : 26 ).Mengenai sosialitas manusia ( social being ) terlaksananya pendidikan secara baik adalah dengan saling tolong-menolong sebagai makh luk sosial. Pernyataan ini dapat dipertegas dengan firmanAllah:

وتعاونوا علي البرّ و التّقوي (المائدة : 2)

Aspek- aspek sosial pendidikan dapat digambarkan dengan memandang ketergantungan individu- individu satu sama lain dalam proses belajar. Makhluk-makhluk bukan manusia seperti binatang buas, burung-burung, atau serangga dapat hidup hanya berpedoman pada warisan biologis, suatu program genetik bagi tingkahlaku makhluk hidup. Pola-pola diwarisi mengajarnya memelihara anaknya, mencari makan, dan menjaga kawasannya.

Sebaliknya, kebanyakan yang perlu diketahui oleh manusia tidak diprogramkan melalui genetik. Semenjak dan masa sangat muda lagi kanak-kanak sudah harus mulai mempelajari cara hidup yang begitu banyak macamnya.Cara hidup yang disebut kebudayaan itu tidak dapat diwariskan secara biologis, harus selalu dipelajari oleh setiap individu.

Sekolah, yang merupakan institusi formal untuk belajar, mengharuskan sejumlah persyaratan kepada pendidikan. Akibatnya, belajar di sekolah sangat berlainan dengan yang berlaku di dalam keluarga, dalam teman-teman sebaya, atau dalam komunitas. Jadi pendidikan dalam pengertiannya yang sangat luas dapat dianggap sebagai suatu proses sosialisasi yang melaluinya seseorang mempelajari cara hidupnya.

Dimensi- dimensi sosial pendidikan yang dibicarakan dalam aspek- aspek sosial pendidikan adalah:

  1. Aspek sosial yang ditanamkan oleh pendidikan yang berlaku disekolah, seperti pewarisan budaya dari generasi tua ke generasi muda. Nilai-niiai scperti kejujuran, solidaritas, gotong-royong adalah nilai-nilai yang tak dapat tidak harus wujud kalau masyarakat itu akan hidup terus. Sebab kumpulan apapun tak akan hidup sebagai kumpulan tanpa nilai-nilai itu sebagai pemersatu.
  2. Aspek sosial yang kedua yang mempengaruhi pendidikan adalah ciri-ciri budaya yang dominan pada kawasan-kawasan tertentu di mana sekolah-sekolah itu wujud. Walaupun pengelompokan seperti ini tidak selalu memberi gambaran yang jernih terhadap kelompok yang dibicarakan di situ. Sebab faktor-faktor lain turut memainkan peranan di dalamnya, seperti kepercayaan politik dan sosial, status sosio ekonoimi, kelas sosial, etnik, ras, agama dan lain-lain.
  3. Aspek sosila ketiga yang memainkan peranan pada pendidikan yaitu faktor-faktor organisasi, dan segi birokrasi. Adanya sistem adrninistrasi yang bersifat hirarkis dan biasanya berlaku pada tiap organisasi persekolahan. Juga hubungan-hubungan dan segi formal dan informal yang masing-masing tergantung pada sistem-sistem sosial yang mengadakannya. Begitu juga guru dan adininistrasi, hubungan orang tua, guru, hubungan teman-teman sebaya, dan hubungan guru, murid, semuanya besar pengaruhnya dalam pelaksanaan pendidikan.
  4. Aspek sosial keempat yang terpenting mempengaruhi pendidikan adalah sistem pendidakan itu sendiri. Istilah sistem pendidikan bermaksud suatu pola total masyarakat dalam institusi formal, agen-agen dan organisasi yang meimindahkan pengetahuan dan warisan kebudayaan yang mempengaruhi pertumbuhan sosial, spiritual, dan intelektual seseorang. Walaupun mungkan kita menganalisa sistem pendidikan dalam kawasan kota, kota madya, propinsi dan lain-lain, tetapi biasanva dibuat dalam bentuk lebih besar, seperti sebuah negara.
  5. Politik dalam Pendidikan

Berbagai hal dilakukan dalam rangka pengembangan pendidikan: (Paulo Freire, 34: 2002)

  1. Pemberantasan Buta Huruf

Berbagaimacam anggapan yang keliru terhadap orang yang buta huruf. Pertama huruf dianggap sebagai “racun” yang tersirat dalam ungkapan. Kedua huruf dianggap sebagai “penyakit” yang dapat menular kepada orang lain. Kadang-kadang buta huruf juga dinggap sebagai “bisul” yang segerah harus diobati. Akibatnya adalah buta huruf dapat dijadikan sebgai ukuran ketidak berdayaan masyarakat, kurang cerdas yang dapat menunjukan sifat malas.

Maka pemecahan masalah ini diharapkan kepada berbagaimacam elemen yang berkepentingan apalagi bagi phak yang mempunyai kepedulian terhadap mereka yang buta huruf ini dapat melakukan berbagai macam upaya penaggulangannya. Bagai dunia pendidikan berperan sangat aktif untuk menanggulanginya, mereka tidak berdaya karena memang tidak mengetahui tetang pentingya tulis baca. Salah satu solusi yang sangat teknis bagaimana buta huruf ini dapat ditanggulangi dengan belajar tulis baca, penyuluhan tentang pentingnya tulis baca dan pengaruhnya terhadap pendidikan guna mencapai kesejahteraan hidup untuk masa yang akan dapang.

  1. Petani sebagai Penulis Buku

Pendidikan orang dewasa sudak sangat jauh berbeda dengan pendidikan anak-anak. Pendidikan orang dewasa, ketika mereka mengetahui menulis dan dapat membaca, maka mereka dapat melakukan pengembangan melalui pola pikir mereka. Seiring dengan pengalaman, penguasaan kosa kata dan bahasa yang akan dipergunakan. Petani yang pada mulanya hanya bergelut dengan tanah, setiap hari diolah, namun penguasaan bahasa yang akan dirangkainya juga sangat menentukan kesuksesan usaha yang dikelolahnya. Maka dalam hal ini peran guru sangat diharapkan dalam rangka pengembangan kemampuan yang telah dimiliki, melalui pengasahan pola pikir dan pengalaman tersebut. Kesadaran seorang guru sangat menentukan sekali keberhasilan.

  1. Pendidikan Pembentuk Ideologi

Pilitik dalam pendidikan diharapkan mampu mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tertuang dalam batang tubuh UUD 1945 “………….. mencerdaskan kehidupan bangsa………..”. ini selalu diupayakan terwujud, sehingga pemerintah melakukan berbagai macam berbaikan dan perubahan terhadap peraturan dan kebijakan terhadap pendidikan. Pembentukan karakter bangsa memerlukan komponen material-ideologi yang diperoleh dari pendidikan. Dengan peranan sebagai berikut:

  1. Mengembangkan sumberdaya yang ada.
  2. Memelai sekolah/ lembaga pendidikan memperoleh nilai-nilai, simbol-simbol dan tujuan bersama
  3. Sekolah menyediakan kerangka berfikir bagi pengembangan ideologi negara.
  4. Pendidikan Budaya

Sebagai makhluk yang sadar bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang hidup selalu berdampingan dengan manusia lain, manusia saling memenuhi kebutuhan. Perkembangan pola pikir manusia menyebabkan terjadinya peubahan yang sangat mendasar terhadap pola dan perilaku hidup. Bagian dari sifat manusia, bahwa tidak mudah menerima perubahan, butuh proses yang sangat tradisional sekali akibatnya adalah perkembangan dan kemajuan pendidikan sangat lamban.

  1. Pemberantasan Buta Huruf

Perkembangan manusia butuh proses yang sangat panjang. Dimana manusia akan memalui berbagaimacam peristiwa, peristiwa tersebut akan dihadapkan dengan kemampuan manusia dalam memahami suatu peristiwa. Pemehaman tersebut sudah pasti manusia dapat membaca apa yang terjadi. Sebagai solusinya adalah dapat dilaksanakan program-program pembemberantasan buta huruf melalui lembaga pendidikan formal, nom formal dan informal. Banyak kita temukan dilapangan individu yang peduli terhadap individu lainnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 A.Gaffar, MS, Dasar Dasar Administrasi dan Supervisi Pengajaran, Padang : Angkasa Raya, 1992

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung : Rosdakarya, 2005

Asnawir, Administrasi Pendidikan, Padang : IAIN Press, 2003

Departemen Agama RI. Al-Qur`an dan Terjemahnya, Surabaya : Toha Putra, 1997

Harold G. Shane, Arti Pendidikan Bagi Masa Depan, Jakarta : Rajawali, 2003

HAR Tilaar, Manajemen Pendidikan Nasional, Bandung : Rosdakarya, 2003

  1. Sirozi, Politik Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 2010

Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, Jakarta : Bina Aksara, 2003

Oemar Hamalik, Kurikulum Pembelajaran, Jakarta : Bumi Aksara,2005

Soedijarto, Menuju Pendidikan Nasional Yang Relevan dan Bermutu, Jakarta : Balai Pustaka, 2001

Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, Jakarta : Rineka Cipta, 2001

Poulo Freire, The Politic of Education: Culture, Power and Liberation, Read, 2002

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *