Tradisi Pemuda Minangkabau yang Sudah Mulai ditinggalkan Oleh: Mardianton, S.EI, M.Pd Dosen STAI Balaiselasa

Tradisi Pemuda Minangkabau yang Sudah Mulai ditinggalkan

Oleh: Mardianton, S.EI, M.Pd
Dosen STAI Balaiselasa

Basurau

“… Kasurau lah buyuang pai mangaji bulia tau jo al-qur’an dan ba hadist…”, ini selalu diucapkan oleh seorang ibu kepada anak bujangnya ketika hari sudah mulai senja. Disurau sholat magrib berjemaah, dan langsung sholat isya, habis sholat isya pun tidak langsung pulang kerumah.

Disurau mangaji, disurau juga baguru, bahkan surau juga dijadikan tempat bermain. Bermain yang dimaksud jauh berbeda dengan bernmain anak muda jaman sekarang. Dulu, habis mengaji tidak langsung pulang kerumah, habis mengaji anak muda belajar pertatah petitih (berpantun adat) tempatnya masih disurau, habis itu langsung belajarr beladiri (bersilat) dengan sang guru mengaji. Jika sudah larut malam maka anak muda Minangkabau juga harus tidur disurau. Karena tidak ada kamar tidur untuk anak muda Minangkabau dirumah.

Surau memang dijadikan sebagai tempat yang istimewa oleh anak muda Minangkabau pada zamannya. Disamping belajar mengaji banyak kepandaian yang dipelajari disurau seperti, belajar adat, nilai-nilai budaya Minangkabau, baseni, petatah petitih adat dan lain sebagainya.

Pandai Bapantun

Bapantun adat, atau pandai berpetatah petitih adat. Tradisi ini “jauh panggang dari api”, jika kita bandingkan dengan kondisi anak muda Minagkabau jaman sekarang. Tradisi sambah-manyambah dalam berbagai prosesi adat dimasyarakat Minangkabau sudah mulai hilang. Padahal tradisi ini mempunyai filosofi yang luar biasa. Bagaimana kita diajarkan cara berkomunikasi dengan masyarakat yang dinamis dalam adat, saling harga-menghargai (baso jo basi) antara tuan rumah dengan tamu dan undangan.

Pandai Basilek

Silek merupakan sebuah tradisi yang harus dipelajari oleh anak muda Minangkabau jaman dalu. Orang yang pandai basilek maka disebut dengan pandeka (pendekar). Bukan saja ilmu bela diri (memperkuat diri) anak muda dari serangan orang lain yang mematikan, namun silek yang dipelajri sarat dengan makna dan filosofi adat Minangkabau. Selain keahlian fisik, basilek (pandai silat) juga diberengi dengan beberapa jian mental. Seperti; ujian kesabaran, (bebas dari tempramen), ujian mengenadalikan diri dari rasa takut. Keseimbangan fisik dengan kematangan emosi, maka akan membetuk pemuda yang tahan banting akan tetapi rendah hati, beretika serta berakhlak mulia.

Pandai Baseni

Hidup dengan seni akan terasa indah. Kegemaran seni anak muda jaman dulu sangat tinggi, belajar seni lagi-lagi ditempatkan disurau (halaman surau). Seni yang dipelajari adalah randai, tari sewa, tari piring, badabuih, bermain musik talempong, serunai dan lain sebagainya. Disamping mempunyai kepandaian dan berbakat dengan seni anak muda juga jadi kebanggan masyarakat karena sudah bisa meramaikan kampung dengan menampilkan berbagai atraksi seninya. Baseni, juga dapat mengurangi kenakalan remaja anak jaman dulu, dimana dalam kegiatan kesenian akan diberikan pemahaman nilai-nilai adat dan budaya didalamnya, sehingga semakin dewasa maka akan semakin paham dengan adat dan budaya.

Marantau

“… karatau madang dihulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, dikampuang baguno balun…”. Tradisi marantau memang sudah dilakukan turun temurun. Marantau menjadi kebanggaan bagi anak muda Minangkabau jaman dahulu. Marantau dilakukan setelah anak muda Minangkabau basurau (belajar mengaji), belajar bapantun (petatah petitih adat) sehingga tau jo kato nan ampek (kato mandata, kato mandaki, kato malereng dan kato manurun), pandai basilek (beladiri) dan tau dengan seni. Ketika sudah dirantau, maka kepandaian ini bisa dikembangkan minimal untuk mencari pergaulan.

Kita harus ingat dengan pesan orang tua kita. “… ketika dirantau, bapak ditinggalkan, bapak dicari, ibu ditinggalkan, ibu dicari, induak samang jan dilupokan….”. Artinya ketika dirantau kita harus mencari tapatan seperti ayah angkat dan ibu angkat karena ayah dan ibu kandung kita sudah kita tinggalkan dikampung. Selanjutnya yang akan kita cari adalah seseorang yang dapat mebantu kita secara ekonomi.

Setelah sukses dirantau baru anak muda Minangkabau kemabali ke kampung halamanya untuk membangun nagarinya. “…. Satinggi tinggi tabang nyo bangau, pulangyo pasti ka kubangan juo. Artinya, sejau manapun kita merantau, suatu saat pasti kita akan pulang kekampung halaman kita juga. Oleh sebab itu, sebagai seorang anak rantau yang sukses diperantauan kita harus membantu anak kemanakan kita yang berada dikampung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *