Mardianton: Apa itu Pemimpin?

Oleh: Mardianton, S.EI, M.Pd Wakil Ketua II STAI Balaiselasa

 

Apa itu Pemimpin?

Istilah yang merujuk pada pemimpin. Pertama, kata umara yang sering disebut juga disebut dengan ulil amri. Sebagaimana firman Allah dalam Surat a-Nisaa’: 59. Artinya “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Dididin Hafidhuddin: Manajemen Syari’ah)

Dari ayat di atas dikatakan bahwa ulil amri atau pejabat adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus orang lain. Dengan kata lain pemimpin itu adalah adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan rakyatnya. Jika ada pemimpin yang tidak mengurus rakyat, maka ia bukanlah pemimpin. Salah satu indikasi pemimpin yang mengurus rakyat adalah pemimpin yang gigih dan selalu berusaha mencarikan bantuan kepada pihak-pihak lain untuk membantu rakyatnya.

Kedua, Pemimpin sering disebut khadimul ummah (pelayan umat). Menurut istilah itu, seorang pemimpin harus menempatkan diri pada posisi sebagai pelayan masyarakat. Seorang pemimpin selalu memikirkan bagaimana daerah yang dipimpinnya benar-benar maju, rakyatnya sejahtera dengan berbagai usaha-usaha yang telah dilakukannya. Seorang pemimpin tidak mesti diam ditempat, melainkan selalu berusaha melakukan lobi-lobi dengan pihak yang berkepentingan untuk mencukupi berbagai kekurangan didaerahnya.

Seorang pemimpin bersikap selalu memberikan pelayanan yang terbaik kepada rakyatnya, mempermudah berbagai akses administratif. Sehingga rakyatnya tidak direpotkan dengan proses administratif yang panjang dan berbelit, memperpendek system/akses sehingga terjangkau oleh masyarakat didaerah. Memperbaiki jalur transpostasi, meningkatkan gairah ekonomi melalui perbaikan pasar, memperbaiki pelayanan kesehatan melalui perbaikan/renovasi puskesma/postu, dan lain sebagainya.

Bagi pemimpin yang bersikap melayani, maka kekuasaan yang dipimpinnya bukan sekedar kekuasaan yang bersifat formalistik karena jabatannya, melainkan sebuah kekuasaan yang melahirkan sebuah power (kekuatan) yang lahir dari kesadaran. Untuk melahirkan kesadaran yang muncul dari hati nurani bawahan memanglah sulit, apalagi selama ini bawahan tersebut sudah terkontaminasi dengan budaya yang tidak baik (malas). Untuk itu, seorang pemimpin yang ingin menggeser budaya yang tidak baik (malas) tersebut harus siap dengan resiko yang tidak populer bagi bawahannya. Karena pemimpin tersebut telah mengusik zona nyaman (budaya malas) yang telah dipeliharanya selama ini.

 

Bersambung………..!!!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *