Dr. Dudung Abdul Razak, S.HI, MA : ZAKAT PROFESI DALAM ISLAM

ZAKAT PROFESI DALAM ISLAM

Oleh: Dr. Dudung Abdul Razak, S.HI, MA.(Dosen STAI Balaiselasa)

Perubahan sosial (sosial change) selalu terjadi pada setiap masyarakat. Pada zaman modern ini banyak pekerjaan atau profesi yang bisa mendatangkan penghasilan yang jumlahnya relatif besar, seperti dokter spesialis, pengacara, notaris, konsultan, dosen, guru, dan lain sebagainya. Disisi lain, banyak di antara kaum profesional yang tidak memahami bagaimana hukum mengeluarkan zakat profesi, dan bagaimana pula mekanisme perhitungannya, sehingga masih banyak kaum profesional yang merasa bahwa dirinya tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan zakat.

Zakat merupakan bukti ketaatanya kepada Allah swt dan merupakan bentuk nyata dari aplikasi solidaritas sosial (al-takaful al-ijtima’i). Zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang mempunyai status dan fungsi yang penting dalam syari’at Islam. Sehingga al-Qur’an menegaskan kewajiban zakat bersama dengan kewajiban shalat di 82 (delapan puluh dua) tempat.

Zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari sumber usaha profesi atau ‎pendapatan jasa. Istilah profesi, disebut sebagai profession dalam bahasa ‎inggris, yang dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan tetap dengan keahlian ‎tertentu, yang dapat menghasilkan gaji, honor, upah, atau imbalan. Persoalan zakat profesi adalah persoalan ijtihadi, yang perlu dikaji dengan seksama menurut pandangan hukum syari’ah dengan memperhatikan hikmah zakat dan dalil-dalil syar’i yang berkaitan dengan masalah zakat. Dasar kewajiban zakat profesi terdapat dalam QS. Albaqarah (2): 267:
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. …”.

Ayat di atas menjelaskan ada dua kategori harta yang wajib dikeluarkan zakatnya, yaitu hasil usaha dan hasil bumi. Alqur’an tidak menyebutkan atau memperinci jenis hasil usaha atau hasil pertanian yang wajib dizakatkan. Hal itu menunjukan bahwa ayat tersebut berlaku umum, apapun jenis usaha dan pertanian yang halal wajib dikeluarkan zakatnya, sesuai dengan makna al-kasbu itu.

Adapun penghasilan dari pegawai negeri/swasta dan yang mempunyai profesi modern seperti dokter spesialis, pengacara, notaris, dosen, guru dan lain sebagainya lebih dekat diqiyaskan zakatnya dengan zakat perdagangan, karena sama-sama menjual, yang satu menjual barang (perdagangan) sedangkan yang yang lainya menjual jasa, dan sama-sama mengandung resiko (untung/rugi). Jika zakat profesi diqiyaskan kepada zakat perdagangan berarti nisabnya sama dengan nisab emas, yaitu 84 gram emas.

Mekanisme penghitungan zakat profesi ada dua pendapat; 1). Dihitung secara netto (bersih), setelah dipotong untuk kebutuhan pokok hidupnya dan keluarganya. Pendapat ini dianut oleh mazhab Hanafi, mazhab Maliki, dan mazhab Hambali. 2). Dihitung secara bruto(kotor), yaitu tanpa dipotong untuk kebutuhan pokok hidupnya dan keluarganya terlebih dahulu. Pendapat ini di anut oleh mazhab Syafi’i. Adapun mekanisme penghitungannya sebagai berikut:
1) Mekanisme penghitungan zakat profesi menurut mazhab Hanafi, mazhab Maliki, dan mazhab Hambali ( secara netto), contoh:
Ibrahim adalah seorang dosen di PTN golongan III/b, dan keluarganya terdiri dari suami, istri dan 3 (tiga) orang anak. Penghasilan setiap bulannya:
1) Gaji resmi dari PTN : Rp. 3.200.000,-
2) Tunjangan Jabatan : Rp. 2.500.000,-
3) Honorarium dari beberapa PTS : Rp. 2.500.000,-
4) Honorarium lain-lain : Rp. 1.500.000,-
Jumlah : Rp. 9.700.000,-

Pengeluaran setiap bulan:

1) Keperluan hidup pokok keluarga Rp. 2.750.000,-
2) Pengeluaran kredit rumah perumnas Rp. 1000.000,-
3) Dan lain-lain Rp. 1.000.000,-
Jumlah Rp. 4.750.000,-

Penerimaan :Rp.9.700.000,-
Pengeluaran :Rp.4.750.000,-
Sisa : Rp.4.950.000,-

Jika penghasilan bersih ( netto) per bulan sebanyak Rp.4.950.000,- x 12 = 59.400.000,-, berarti penghasilan profesi Ibrahim telah sampai satu nisab (Rp. ‎45.024.000-‎, jika harga emas Rp.596.000 / gram). Adapun zakat yang wajib dikeluarkan setiap tahunnya yaitu berjumlah Rp. 59.400.000,-x 2.5%= 1.485.000,-. Jika pembayaran zakatnya dibayarkan di setiap bulan, berarti zakat yang harus dikeluarkan Ibrahim perbulannya berjumlah Rp. 123.750,-.

2) Mekanisme penghitungan zakat profesi menurut mazhab Syafi’i (secara bruto / kotor), contoh:‎
Ilham adalah seorang dokter, dan keluarganya terdiri ‎dari suami, istri dan 3 (tiga) orang anak. Penghasilan setiap bulannya:‎
‎1)‎ Gaji resmi dari RS Pemerintah ‎: Rp. 3.500.000,-‎
‎2)‎ Praktek swasta sore / malam hari ‎: Rp. 1.500.000,-‎
‎3)‎ Honorarium lain-lain ‎: Rp. 1.000.000,-‎
     Jumlah ‎: Rp. 6.000.000,-‎

Jika penghasilan kotor ( bruto) per bulan sebanyak Rp.6.000.000,- x 12 =‎‎72.000.000,-, berarti penghasilan profesi Ilham telah sampai satu nisab ‎‎(Rp. ‎45.024.000-‎). Adapun zakat yang wajib dikeluarkan setiap tahunnya yaitu ‎berjumlah Rp. 72.000.000,-x 2.5%= 1.800.000,-. Jika pembayaran zakatnya ‎dibayarkan di setiap bulan, berarti zakat yang harus dikeluarkan Ilham ‎perbulannya berjumlah Rp. 150.000,-.‎

Berdasarkan penjelasan di atas ternyata jumlah zakat profesi setahun cukup ringan/sedikit, sedangkan hikmahnya sangat besar, baik bagi diri muzakki dan keluarganya maupun bagi masyarakat dan Negara dalam rangka mengentaskan kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat/Negara. Semoga tulisan ini dapat menjadi nutrisi bagi kaum profesional dalam menumbuhkan kesadaran untuk berzakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *