Afrianto, M. Ag: PARADIGMA KEMANUSIAAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

PARADIGMA KEMANUSIAAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Oleh: Afrianto, M. Ag

Dosen Tetap STAI Balaiselasa

A. Pendahuluan

Pendidikan mempunyai peran strategis sebagai sarana human resources dan human investment. Artinya, pendidikan selain bertujuan menumbuhkembangkan kehidupan yang lebih baik, juga telah ikut mewarnai dan menjadi landasan moral dan etik dalam proses pemberdayaan jati diri bangsa.[1] Berangkat dari arti penting pendidikan ini, maka wajar jika hakekat pendidikan merupakan proses humanisasi.[2] Humanisasi  berimplikasi pada proses kependidikan dengan orientasi pengembangan aspek-aspek kemanusiaan manusia, yakni aspek fisik-biologis dan ruhaniah-psikologis. Aspek rohaniah-psikologis inilah yang dicoba didewasakan dan diinsankamilkan melalui pendidikan sebagai elemen yang berpretensi positif dalam pembangunan kehidupan yang berkeberadaban.[3] Dari pemikiran ini, maka pendidikan merupakan tindakan sadar dengan tujuan memelihara dan mengembangkan fitrah serta potensi (sumber daya) insani menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil).[4]

Selanjutnya, dapat dipahami bahwa persoalan pendidikan pada gilirannya terkembali pada hakikat kehadiran manusia di muka bumi ini. Kehadiran yang dimaksud ditafsirkan sebagai proses eksistensi memberikan makna yang cukup mendalam pada kehidupan manusia, dan pendidikan selalu dijadikan modul untuk menghantarkan fitrah menuju cita ideal (mardhatillah). Pada prinsipnya pemikiran-pemikiran seperti inilah yang mengakibatkan banyaknya muncul kepermukaan konsep pendidikan kontemporer. Adanya berbagai pendidikan mengenai manusia, mengenai perbuatan manusia, mengenai tujuan hidup manusia, mengenai pertautan antara manusia dengan lingkungannya, dengan waktu dan sebagainya, melahirkan berbagai pandangan tentang pendidikan dan berbagai metode pendidikan.

Persoalan manusia merupakan tema sentral dan titik tolak dalam memaknai pendidikan karena pendidikan pada dasarnya ingin mengantarkan manusia menuju kemanusiaan sejati. Begitu sentralnya kedudukan manusia dalam proses pendidikan, fungsi pendidikan terutama berkepentingan mengarahkan manusia pada tujuan-tujuan tertentu dan menemukan tujuan hidupnya. Sayangnya, persoalan manusia kurang mendapat perhatian dalam pemikiran pendidikan Islam. Kalaupun ada kajian-kajian mengenai manusia sejauh ini belum ditemukan pandangan dasar kemanusiaan secara holistik. Kajian mengenai manusia masih sering terjebak pada pandangan dikotomik yang merupakan warisan dari corak pemikiran tipikal Yunani tentang realitas, yang mencapai puncaknya pada zaman Plato dan Aristoteles.

Seluruh problema yang dihadapi manusia menuntut adanya penyelesaian, karena problema adalah sesuatu yang menghambat, merintangi, dan mempersempit kemungkinan seseorang untuk berhasil mencapai sesuatu. Penyelesaian tersebut sangat kompleks, sehingga alternatif konsepsional dan tawaran teknologis operasional harus diorientasikan pada kompleksitas manusia. Pendekatan-pendekatan psikologik berupa psikoterapi, bimbingan konseling, dan sebagainya merupakan pendekatan alternatif yang menjadi perhatian para ahli pada umumnya.

Psikologi, dan pendidikan serta filsafat pada gilirannya merupakan tiga komponen yang dapat bersatu dalam sebuah sistem kehidupan manusia. Khususnya untuk meletakkan dasar-dasar manusia dalam dimensi kehidupannya secara proses dari dasar menuju cita idealita. Cita idealita yang dimaksud adalah tercapainya ridha Allah dalam kehidupan manusia (mardhatillah). Makalah ini akan coba membahas paradigma kemanusiaan dalam pendidikan Islam. Sub-sub bahasan dalam makalah ini  dapat dikategorikan pada aspek psikologi, filsafat, dan pendidikan.

B. Perjalanan Hidup Manusia (Menuju Mardatillah).

Melalui kajian Psikologi perkembangan Islami, al-Quran menggambarkan gejala kejiwaan manusia dengan menunjukkan adanya gejala pertumbuhan dan perkembangan. Gejala kehidupan manusia ditandai dengan adanya proses pertumbuhan dan perkembangan yang terpadu antara fungsi fisik dan fungsi psikis. Kondisi ini memberikan peluang bagi manusia untuk melakukan interpretasi dalam merakit pola kehidupannya, sekaligus merekayasa apa yang ia inginkan. Dalam kepentingan hidupnya lebih lanjut, Allah memberikan perangkat kehidupan baik itu kemampuan dasar maupun kemampuan yang hanya potensi awal untuk dapat dikembangkan bila ingin dimanfaatkan.

Psikologi perkembangan Islami merupakan psikologi perkembangan yang mengkaji segala aspek perkembangan manusia dari perspektif Islam. Dengan demikian, secara umum psikologi perkembangan Islami memiliki kesamaan objek studi dengan psikologi perkembangan, yaitu proses pertumbuhan atau perubahan manusia. Namun, jika psikologi perkembangan membatasi penelitiannya dari konsepsi sampai usia lanjut atau kematian, maka melalui studi literatur keagamaan, psikologi perkembangan Islami dapat memperluas ruang lingkup penelitiannya pada kehidupan yang bersifat transendental, termasuk kehidupan setelah mati.

Dilihat dari proses penciptaan manusia, al-Qur’an menyatakan peroses penciptaan manusia dalam dua tahapan yang berbeda, yaitu: pertama, disebut dengan tahapan primordial. Kedua, disebut dengan tahapan biologi. Manusia pertama,  Adam as , diciptakan dari at-tin (tanah), at-turob (tanah debu), min shal (tanah liat), minhamain masnun (tanah lumpur hitam yang busuk) yang dibentuk Allah dengan seindah-indahnya, kemudian Allah meniupkan ruh dari-Nya ke dalam diri (manusia) tersebut. Penciptaan manusia selanjutnya adalah proses biologis yang dapat dipahami secara sains-empirik. Di dalam proses ini, manusia diciptakan dari inti sari tanah
yang dijadikan air mani (nuthfah) yang disimpan di tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani dijadikan darah beku (‘alaqah) yang menggantung dalam rahim. Darah beku tersebut kemudian dijadikan-Nya segumapal daging (mudghah) dan kemudian dibalut dengan tulang belulang lalu kepadanya ditiupkan ruh.(Q.S, Al Mu’minun/23:12-24). Hadist yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim menyatakan bahwa ruh dihembuskan Allah SWT ke dalam janin setelah ia mengalami perkembangan 40 hari nuthfah, 40 hari ‘alaqah dan 40 hari mudghah.[5]

Al-Ghazali mengungkapkan proses penciptaan manusia dalam teori pembentukan (taswiyah) sebagai suatu proses yang timbul di dalam materi yang membuatnya cocok untuk menerima ruh. Materi itu merupakan saripati tanah liat nabi Adam as yang merupakan cikal bakal bagi keturunannya. Cikal bakal atau sel benih (nuthfah) ini yang semula adalah tanah liat setelah melewati berbagai proses akhirnya menjadi bentuk lain (khalq akhar) yaitu manusia dalam bentuk yang sempurna.

Tanah liat menjadi makanan (melalui tanaman dan hewan), makanan menjadi darah, kemudian menjadi sperma jantan dan indung telur. Kedua unsur ini bersatu dalam satu wadah yaitu rahim dengan transformasi panjang yang akhirnya menjadi tubuh harmonis (jibillah) yang cocok untuk menerima ruh. Sampai di sini prosesnya murni bersifat materi sebagai warisan dari leluhurnya. Kemudian setiap manusia menerima ruhnya langsung dari Allah disaat embrio sudah siap dan cocok menerimanya. Maka dari pertemuan ruh dan badan, terbentuklah makhluk baru manusia.[6]

Sedangkan dalam perspektif psikologi perkembangan Islami, manusia dipandang sebagai citra Allah yaitu sebagai khalifah Allah di muka bumi. Manusia dipandang sebagai makhluk Allah yang diserahi tugas sebagai khalifah. Elemen terpenting yang membedakan pendekatan Islam dengan pendekatan Barat adalah fakta adanya ketentuan Allah (God’s will). Dalam pendekatan psikologi perkembangan Islami, ketentuan Allah merupakan faktor inti dan paling berpengaruh dalam perkembangan manusia. Faktor ini melengkapi paradigma herediter dan lingkungan (nature-nurture) yang sering dibahas sebagai faktor dominan yang memengaruhi perkembangan manusia. Kehendak Allah berada di atas kebebasan manusia yang dianugerahkan kepadanya sebagai khalifah di muka bumi.

Peran kehendak Allah dalam menentukan perkembangan individual seperti dinyatakan dalam pendekatan Islam akan membantu memahami proses perkembangan yang lebih baik dari pendekatan psikologi Barat dalam berbagai cara. Perlu disadari, bahwa tidak semua konstruk dan kecenderungan psikologi dapat secara ketat dipengaruhi oleh semata-mata pengaruh herediter dan lingkungan. Karena bagaimanapun individu kadang-kadang menunjukkan kecenderungan tertentu yang secara jelas menyimpang dari penjelasan pengaruh herediter dan lingkungan. Kasus kemampuan bicara Nabi Isa as. dan lain-lain dalam buaian merupakan kesaksian terhadap hal ini. Dalam hal ini, jika tidak diatribusikan kepada kehendak Allah, hanya kebohongan yang merupakan penjelasan fakta ini.

Manusia dalam sepanjang rentang kehidupannya merupakan obyek pendidikan. Oleh karena itu, para pendidik perlu memahami perkembangan hidup manusia sejak lahir mengalami pertumbuhan secara vertikal menuju kepada kesempurnaannya. Terkait dengan hal itu, Islam memiliki perspektif perjalanan hidup manusia. Dalam pandangan Islam suatu pertumbuhan itu dapat dibedakan dalam 3 jenis yaitu: 1) pertumbuhan secara biologis; 2) pertumbuhan bersifat psikologis; dan 3) Pertumbuhan paedagogis.

Islam menjelaskan bahwa pertumbuhan manusia itu berlangsung secara fase demi fase. Pernyataan hal ini terdapat di dalam Alquran surah Al Mukmin [40] ayat 67.

“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).”

 

Ayat tersebut menunjukkan bahwa fase-fase pertumbuhan manusia itu berlangsung sebagai berikut: 1) fase embrio (masih dalam perut ibu); 2) fase kanak-kanak (sejak lahir dari rahim ibu); 3) fase kuat (kuat jasmani dan rohani atau fikiran); 4) fase tua; dan 5) fase meninggal dunia. Pertumbuhan tersebut digolongkan ke dalam klasifikasi pertumbuhan secara biologis.

Adapun pertumbuhan yang bersifat psikologis (perkembangan) menurut Ali Fikri sebagaimana dikutip oleh Arifin sebagai berikut.

1) Masa Kanak-kanak: dari lahir sampai umur 7 tahun.

Bila anak telah sampai umur 40 hari ia telah dapat tersenyum dan dapat melihat. Pada saat ini anak juga telah dapat merasa sakit; merasakan hajat-hajat biologis. Umur 7 bulan anak mulai tumbuh giginya. Mengarungi tahun kedua anak mulai dapat berjalan. Tahun ketiga pada diri anak telah terbentuk keinginan serta kemauannya. Tahun keempat anak telah mulai mempunyaki zakirah (ingatan). Tahun ketujuh ia dapat menetapkan sesuatu menurut hukum-hukum sendiri. Anak pada umur ini (umur 6 dan 7 tahun) jasmani dan akalnya akan berkembang, mereka mengukur segala sesuatunya secara egosentris.

2) Masa Berbicara: mulai tahun ke 8 sampai ke 14.

Masa ini dapat juga disebut periode cita-cita sebab pada masa ini anak menuju ke arah segala sesuatu yang berhubungan erat dengan tabiat dan akalnya. Pada masa ini orang tua harus menjaga jasmani anaknya misalnya dengan olahraga, bekerja dan lain-lain.

3)  Masa Akil Balig: dari umur 15-21 tahun.

4)  Masa Syabibah (adolecent) dari umur 22 sampai 26 tahun.

5) Masa Rujulah (pemuda pertama atau dewasa) dari 29 sampai umur 35 tahun.

6)  Masa Pemuda Kedua: dari umur 36 sampai umur 42 tahun.

7)  Masa Kuhulah: dari umur 43 sampai 49 tahun.

8)  Masa Umur Menurun: dari 50 sampai 56 tahun.

9)  Masa Kakek/Nenek Pertama: dari 56 sampai 53 tahun.

10) Masa Kakek/Nenek Kedua: dari 66 sampai 75 tahun.

11) Masa Harom (pikun): dari 75 sampai 91 tahun.

Selanjutnya, menurut Islam kematian pada manusia terjadi ketika roh terlepas dari tubuh manusia dan tidak kembali lagi. Islam mengajarkan adanya kematian yang baik dan yang buruk. Kematian buruk adalah kematian dalam keadaan kafir ( su’ul khaatimah). Kematian yang baik adalah kematian dalam Islam (husnul khaatimah).

C. Jati Diri dan Kebebasan Manusia Perspektif Pendidikan Islam

1) Jati Diri Manusia Perspektif Pendidikan Islam.

Salah satu persoalan pokok yang perlu diketahui tentang manusia sebagai peserta didik ialah sifat-sifat dasar (pembawaan) yang dimiliki manusia ketika ia dilahirkan. Dalam literatur Islam, masalah ini dibahas dengan topik fithrah. Para ahli pendidikan sepakat menyatakan bahwa teori dalam pendidikan sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh pandangan tentang fitrah manusia.[7] Pandangan atau konsepsi tentang fitrah manusia ini menjadi pangkal tolak dari teori dan pelaksanaan pendidikan. Ia menentukan apakah pendidikan diperlukan atau tidak, apakah pendidikan berguna atau tidak. Jika diperlukan, aspek apa saja yang perlu ditumbuh-kembangkan dalam pendidikan serta bagaimana melakukannya. Di dalam ilmu pendidikan dikenal beberapa aliran mengenai fitrah manusia, seperti Nativisme, Empirisme, Naturalisme, dan Konvergensi dengan pendapatnya masing-masing.

                Di dalam beberapa tulisan tentang konsepsi Islam mengenai manusia, dikemukahkan bahwa kekhususan dan inti pandangan Islam terletak pada kata fithrah. Pendapat ini seakan-akan menyatakan bahwa kata fitrah sudah cukup jelas untuk menggambarkan hakikat dan karakteristik manusia menurut pandangan Islam. Seiring dengan itu, kata fitrah lalu diberi arti suci, potensi-potensi baik, Islam, dan lain-lain.[8] Boleh jadi, semua kata ini merupakan beberapa aspek penting dari fitrah manusia menurut pandangan Islam. Namun, kajian lebih cermat tentang kata fitrah menunjukkan bahwa pemahaman seperti ini belum memberikan gambaran yang sesungguhnya. Bahkan, pengertian seperti itu dapat berpengaruh kurang baik bagi penyelenggaraan pendidikan, baik pada tataran konsep maupun dalam prakteknya. Di samping itu, secara etimologis, juga tidak ada kaitan langsung antara kata fitrah dengan kata suci, potensi, Islam, dan lain-lain.

Bastaman menjelaskan bahwa Islam memandang manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki keunikan dan keistimewaan tertentu. Sebagai salah satu makhluk-Nya karakteristik eksistensi manusia harus dicari dalam relasi dengan Sang Pencipta dan makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Sekurang-kurangnya terdapat empat ragam relasi manusia yang masing-masing memiliki kutub positif dan negatif, yaitu:

  1. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri (hablum minannas) yang ditandai oleh kesadaaran untuk melakukan amal makruf nahi munkar (QS. 3: 110) atau sebaliknya mengumbar nafsu-nafsu rendah (QS. 45:23);
  2. Hubungan antar manusia (hablum minannas) dengan membina silaturahim (QS. 4:1) atau memutuskannya (QS. 12: 100);
  3. Hubungan manusia dengan alam sekitar (hablum minal ‘alam) yang ditandai upaya pelestarian dan pemanfaatan alam dengan sebaik-baiknya (QS. 11: 6) atau sebaliknya menimbulkan kerusakan alam (QS. 30: 41);
  4. Hubungan manusia dengan Sang Pencipta (hablum minallah) dengan kewajiban ibadah kepada-Nya (QS. 51: 56) atau menjadi ingkar dan syirik kepada-Nya (QS. 4: 48).

Selanjutnya, Bastaman menegaskan bahwa ragam dan corak relasi-relasi itu perlu dijelaskan bahwa sekalipun manusia seakan-akan merupakan pusat hubungan-hubungan (center of relatedness), tetapi dalam ajaran Islam pusat segalanya bukanlah manusia, melainkan Sang Pencipta sendiri yaitu, Allah SWT. Dengan demikian dapat dipahami landasan filsafat mengenai manusia dalam ajaran Islam bukan antroposentrisme, melainkan theosentrisme, atau lebih tepat Allah-sentrisme.

Ditinjau dari asalnya penciptaa manusia bersumber dari dua asal, yaitu: (1) asal yang ‘jauh’, penciptaan pertama dari tanah yang kemudian disempurnakan dan ditiupkan ruh-Nya kepada manusia tersebut; dan (2) asal yang ‘dekat’ penciptaan manusia dari nutfah. Untuk menjelaskan kedua asal tersebut Allah berfirman dalam al-Quran (QS. 32: 7-9; QS. 15: 28-29; QS. 86:6-7; QS. 36: 77; QS. 39:6; QS. 23: 12-14). Dalam al-Quran pandangan manusia diarahkan pada kehinaan, hal ini ditujukan untuk menghancurkan kecongkakan manusia dan melemahkan ketakaburannya, sehingga ia benar-benar tawaduk dalam kehidupannya.

Dalam pandangan Psikologi Islam, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki tiga sisi, yaitu:

  1. Jasmani, terdiri dari badan kasar, berupa wujud fisik, sifatnya tergantung pada materi dan memiliki kecenderungan biologis-primitif, dapat hancur dan rusak, tetapi merupakan tempat penting bagi eksistensi dan wadahnya unsur kehidupan.
  2. Ruhani, merupakan unsur paling halus, bersifat suci dan Ilahi karena dianggap berasal dari Ilahi, kecenderungannya kepada yang suci, bersih dan mulia, kekal dalam arti tidak hancur karena hancurnya badan jasmani.
  3. Nafsani, merupakan unsur penghubung antara jasmani dan ruhani, karena itu nafsani dapat bersifat dan berkecenderungan seperti jasmani, tetapi di sisi lain nafsani juga memiliki kecenderungan dan sifat seperti ruhani. Karena itu seperti disebut dalam QS. Al-Syams ayat 8-9, nafs adalah potensi dari Allah yang diilhami dengan kecenderungan baik dan buruk, yaitu Ilham Fujur dan Ilham Taqwa, yang sama-sama memiliki tarikan yang kuat.

Para ahli umumnya membedakan manusia dari dua aspek, yaitu aspek jasad dan aspek ruh. Mereka sedikit sekali membedakan antara jasad, ruh, dan nafs, padahal ketiganya memiliki kriteria-kriteria tersendiri. Jasad dan ruh merupakan dimensi manusia yang berlawawan sifatnya. Jasad sifatnya kasar dan inderawi atau empiris, naturnya buruk, asalnya dari tanah bumi, dan kecenderungannya ingin mengejar kenikmatan duniawi atau material. Sedangkan ruh sifatnya halus dan gaib, naturnya baik, asalnya dari hembusan langsung dari Allah dan kecenderungannya mengejar kenikmatan samawi, ruhaniah dan ukhrawiah. Masing-masing dimensi yang berlawanan naturnya ini pada prinsipnya saling membutuhkan. Jasad tanpa ruh merupakan substansi yang mati, sedang ruh tanpa jasad tidak dapat teraktualisasi. Oleh sebab itu, perlu adanya sinergi antara kedua aspek yang berlawanan ini, sehingga menjadi nafs. Dengan nafs maka masing-masing keinginan jasad dan ruh dalam diri manusia dapat terpenuhi.

2) Kebebasan Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam

Dalam al-Qur’an menekankan supremasi dan keagungan Tuhan. Di pihak lain, diantara seluruh makhluk, manusia telah diberi potensi yang paling besar dan dipercayai memikul amanat dengan seluruh makhluk lainnya. Manusia selain merupakan makhluk biologis yang sama dengan makhluk hidup lainnya, adalah juga makhluk yang mempunyai sifat-sifat tersendiri yang berbeda dari segala makhluk dunia lainnya. Manusia tidak semata-mata tunduk pada kodratnya dan secara pasif menerima keadaannya, tetapi ia selalu secara sadar dan aktif menjadikan dirinya sesuatu. Proses perkembangan manusia sebagian ditentukan oleh kehendaknya sendiri, berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya yang sepenuhnya tergantung pada alam.

Manusia dikatakan bebas mengandung dua pengertian, yaitu ia mampu untuk menentukan diri sendiri dan ia tidak dibatasi oleh orang lain atau masyarakat dalam kemungkinannya untuk menentukan diri. Kebebasan pertama bersifat positif: sebagai suatu kemampuan yang ada pada manusia. Kebebasan yang kedua bersifat negatif: sebagai tidak adanya pembatasan.[9]

Kedua segi kebebasan itu perlu dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan: kedua-duanya merupakan satu kebebasan manusia. Manusia dari subyek kebebasan mempunyai kedudukan yang penting dalam Islam sehingga Islam mempunyai pandangan tersendiri terhadap manusia diantaranya yaitu:

  1. Al-Qur’an dan as-Sunnah selalu meminta agar manusia mengisi hidupnya dengan bekerja untuk mempertahankan hidupnya dengan bekerja untuk memanfaatkan apa yang Allah telah ciptakan di muka bumi ini.

Manusia sebagai “khalifah Allah” di muka bumi harus menggunakan kebebasan berbuat yang dimilikinya itu sebagai itu wakil Tuhan untuk memakmurkan bumi dan meningkatkan kualitas dirinya dengan merealisasikan segala perintah dan larangannya. Sedangkan posisi manusia sebagai hamba Allah tidak boleh mempunyai sikap fatalis dan statis akan tetapi dalam perhambaannya kepada Allah haruslah tetap selalu disertai memiliki kepedulian dan peningkatan kualitas kehidupannya di dunia dan tidak boleh membencinya. Posisi sebagai khalifah dan hamba Allah adalah bukan merupakan dua hal yang bertentangan akan tetapi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Manusia bisa mempunyai kemampuan dan kekuatan yang hebat dan mengagumkan. Akan tetapi manusia juga memiliki kelemahan dan kekurangan yang tidak bisa diatasinya serta mempunyai keterbatasan yang tidak bisa dilampauinya.

  1. Manusia adalah makhluk termulia dari seluruh ciptaan Tuhan.[10]

Keseluruhan alam semesta diciptakan baginya dan tunduk kepada tujuan-tujuannya. Bahwa tujuan manusia adalah mempelajari alam semesta, hukum-hukum susunan batinnya sendiri dan proses sejarah, untuk kemudian menggunakan pengetahuan ini demi kebaikan, dan bahwa aktivitas yang memiliki tujuan ibadat atau pengabdian kepada Tuhan merupakan tujuan dari penciptaan manusia, bahkan tujuan dari penciptaan seluruh makhluk.

  1. Manusia adalah suatu problem, suatu persoalan bagi dirinya sendiri.

Manusia terikat pada hukum alam, hukum tidak dapat membuat manusia tanpa alat tidak dapat menembus alam tanpa pesawat dan alat-alat khusus yang diadakan untuk itu. Manusia dilindungi oleh hukum-hukum alam. Manusia dalam garis besarnya telah dapat menentukan masa depannya. Hal ini dapat membawa pada paham determinisme yaitu paham yang menyatakan bahwa manusia itu bebas tidak terikat oleh sesuatu yang lain. Manusia sebenarnya tidak mempunyai kemerdekaan dan kebebasan yang tidak terdapat pada dirinya. Kebebasan manusia dibatasi oleh unsur materi yang terdapat dalam dirinya. Jadi, kebebasan manusia tidak mengandung arti kebebasan tidak terbatas.

  1. Manusia adalah makhluk Tuhan yang sangat istimewa, bahkan setinggi tingkatannya apabila dibandingkan dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain, misalnya hewan. Kelebihan manusia dari hewan itu, antara lain terletak pada hal-hal sebagai berikut: Pertama, manusia memiliki bentuk jasmani yang lebih baik dan lebih cantik daripada hewan. Kedua, manusia juga memiliki rohani atau jiwa yang sempurna. Ketiga, manusia diberi beban tugas oleh Allah SWT untuk dijadikan sebagai khalifah di muka bumi.[11].

Berkaitan dengan pandangan tersebut, Islam juga memandang manusia mempunyai kebebasan seperti yang akan dipaparkan di bawah ini:

  1. Kebebasan dalam al-Qur’an

Dalam al-Qur’an banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang kebebasan manusia diantaranya adalah surat Fushilat ayat 46 yang berbunyi:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَ مَنْ أَساَءَ فَعَلَيْهَا وَ مَا رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-(Nya). “

Dalam ayat tersebut dijelaskan tentang amal yang saleh atau yang buruk seluruhnya disandarkan kepada manusia itu sendiri. Andaikata manusia itu tidak merdeka dan tidak bebas untuk memilihnya tentunya tidaklah akan disandarkan perbuatannya itu diatas dirinya.  Sebagaimana dijelaskan dalam Surat Asy Syuro ayat 30, yang berbunyi:

وَ مَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسبَتْ أَيْدِيْكُمْ وَ يَعْفُوْ عَنْ كَثِيْرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Jadi, keburukan-keburukan dan bencana-bencana yang diderita oleh seseorang itu hanyalah sebagai bekas atau kesan dari hasil perbuatannya sendiri dan itu pulalah yang merupakan buah dan natijah dari cara pilihan dan pemikirannya yang merdeka dan bebas. Berkaitan dengan adanya kerusakan atau marabahaya yang selalu meliputi diri manusia dijelaskan bahwa itu semua bukanlah karena perbuatan manusia itu sendiri. Ada perbuatan manusia yang menurut hukum dapat dipertanggung-jawabkan karena perbuatan itu dilakukan dalam ketiadaan (kehendak bebas).

  1. Kebebasan berkaitan dengan akal

Dalam struktur rohani manusia ada satu potensi yang dinyatakan dengan perkataan ratio (latin), akal (bahasa Arab: ‘aqal), budi (bahasa Sansekerta: buddi), akal budi (satu perkataan yang tersusun dari Bahasa Arab dan Bahasa Sansekerta), nous (bahasa Yunani), reason (Bahasa Perancis dan Inggris), verstand, vernuft (bahasa Belanda) dan vernunft (bahasa Jerman). Secara umum akal budi berarti suatu potensi dalam rohani manusia yang berkesanggupan untuk mengerti sedikit secara teoritis realita kosmis yang mengelilingnya dalam mana ia sendiri juga termasuk, dan untuk secara praktis merobah dan mempengaruhinya.

Berfikir adalah suatu gejala nafsiah yang bisa menghubungkan apa-apa yang diketahui. Berpikir merupakan proses dialektis. Artinya, selama manusia berfikir, dalam fikiran itu terjadi tanya jawab, untuk bisa meletakkan hubungan-hubungan antara ketahuan manusia itu dengan tepat.

Akal adalah suatu daya yang hanya dimiliki manusia, dan oleh karena itu akallah yang memperbedakan manusia dari makhluk lain. Akal adalah tonggak kehidupan manusia dan dasar kelanjutan wujudnya. Peningkatan daya akal merupakan salah satu dasar pembinaan budi pekerti mulia yang menjadi dasar dan sumber kehidupan dan kebahagiaan bangsa-bangsa.

Pembicaraan akal ini berkaitan pula dengan berfikir. Berfikir adalah proses dari kebebasan akal yang menjadi eksistensi akal tersebut. Sebab sumber kebebasan akal potensi-potensi manusia itu sendiri yang menjadikannya mampu berfikir dan tidak bisa memiliki potensi maka manusia tersebut mesti bebas.

Sementara itu, Akhyar menjelaskan bahwa dilihat dari episode-episode perjalanan sejarah kehidupan manusia, ternyata manusia tidak dapat melepaskan diri dari problema kehidupan. Dalam Al quran Allah telah menawarkan dua pilihan (berupa jalan kebajikan dan jalan kejahatan dalam QS. Al-Balad ayat 10), dan dari pilihan itu akhirnya manusia terpilah menjadi dua golongan atau kelompok, yaitu orang yang bersyukur dan orang yang kufur. Allah dengan nyata telah memberikan petunjuk untuk menempuh jalan yang terbaik. Dengan demikian, secara nyata Islam telah memberikan kebebasan sempurna kepada manusia untuk menentukan alternatif pada sikap dan tindakannya.

Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa paradigma kemanusiaan tentang konsep kebebasan dalam Islam membuka kemungkinan manusia berada pada kubu malaikat atau pada kubu syaitan. Pemilihan manusia terhadap salah satu alternatif (kedua kubu tersebut) akan besar kemungkinannya. Namun, harus tetap disadari bahwa Islam memandang konsep kebebasan sebagai kebebasan yang senantiasa merujuk pada aturan-aturan, kaidah-kaidah Islam, bukan sebagai kebebasan yang tanpa batas. Kebebasan terbatas yang dimiliki manusia mengandung makna bahwa secara esensial manusia juga memiliki kemampuan yang terbatas. Ia tidak akan mampu menyelesaikan segala permasalahan kehidupan yang dihadapinya secara mandiri. Oleh karena itu manusia tidak mungkin bisa menyelesaikan segala persoalan hidupnya tanpa dibantu oleh pengetahuan yang memadai serta melalui proses pendidikan yang solutif.

D.Tugas Hidup Manusia Perspektif Pendidikan Islam.

Islam memandang bahwa manusia merupakan makhluk Allah SWT. yang paling mulia. Manusialah makhluk yang diberi ruh dan akal sebagai sarana untuk menjalani dan memaknai kehidupan di dunia ini. Manusia sesuai hakikatnya diciptakan dalam keadaan yang terbaik, paling sempurna dibandingkan makhluk lain, tetapi sekaligus memiliki hawa nafsu, lemah, aniaya, terburu nafsu, membantah, dan lain-lain. Mengingat berbagai sifat di atas, diperlukan upaya untuk menjaga agar manusia tetap menuju ke arah bahagia, menuju kecitranya yang terbaik, ke arah ahsan al-taqwim.

Manusia adalah hasil dari proses pendidikan. Dengan mudah hal ini dapat direalisasikan manakala salah satu dari unsur-unsur pendidikan ini dikaitkan dengan petunjuk tingkah laku manusia berkenaan dengan objek-objek tertentu. Manusia dalam pendidikan berfungsi sebagai khalifah. Manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi. Manusia yang benar-benar khalifah Allah adalah manusia yang mempunyai kondisi baik, berperangai halus. Konsep Al quran mengenai fitrah baik juga akan mendapat perhatian demi memperjelas permasalahannya. Keselarasan fitrah dengan kecenderungan-kecenderungan jasmaniah akan dijelaskan dengan rujukan kepada pengaruh ruh yang memungkinkan baginya dapat dididik.

Karena  manusia dalam pandangan Islam memiliki berbagai potensi yang akan dikembangkan, maka Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk kepribadian  manusia secara kaffah, justru itu pendi-dikan Islam seyogyanya menyediakan wahana dan sarana unProses pendidikan pada hakikatnya merupakan aktualisasi potensi diri manusia. Potensi berupa Struktur jiwa yang dikenal dengan: “al-fitrah”, “ar-ruh”, “al-aql”, “an-nafs”, “al-jism”. Potensi yang akan dikembangkan itu seharusnya Dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran tidak hanya sebagai transfer ilmu pengetahuan, tetapi lebih dari itu menanamkan nilai-nilai Islami yang tercermin dalam kecerdasan qalbiyah. Proses pendidikan pada hakikatnya merupakan aktualisasi potensi diri manusia. Potensi berupa Struktur jiwa yang dikenal dengan: “al-fitrah”, “ar-ruh”, “al-aql”, “an-nafs”, “al-jism”.

Manusia secara kodrati bukanlah malaikat atau setan. Malaikat adalah makhluk yang senantiasa taat kepada semua perintah Allah, sedangkan setan adalah makhluk yang senantiasa mengingkari perintah Allah. Menurut Chairil Anwar dalam buku yang berjudul “Islam dan Tantangan Kemanusiaan Abad XXI” menyatakan bahwa, “manusia adalah makhluk ideal yang posisinya berada diantara kedua ekstrim malaikat dan setan”.[12] Oleh karena itu manusia bisa memiliki sikap patuh dan taat terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, namun sebaliknya manusia bisa pula mengingkari perintah Allah dan mengerjakan larangan-Nya.

Manusia sebagai makhluk yang memiliki kesempurnaan bentuk jasmani dan rohani, manusia berkewajiban patuh dan taat terhadap semua perintah Allah SWT serta menjauhi semua larangan-Nya. Realisasi kepatuhan dan ketaatan manusia tersebut diwujudkan oleh allah dalam suatu tugas kekhalifahan. Sebagai khalifah, manusia adalah pelaksana dari kekuasaan dan kehendak (kodrat dan irodat) Allah SWT. Manusia harus meniru contoh yang diberikan para Nabi dan Rasul Allah, karena mereka adalah manusia sempurna (insan kamil). Menurut  Ace Partadiredja dalam buku yang berjudul “Al Quran, Mu’jizat, Karomat, Maunat dan Hukum Evolusi Spiritual” menyatakan bahwa, “manusia yang berakhlaq sempurna, seperti contohnya para Nabi, adalah yang dapat mempersatukan kehendaknya dengan kehendak Allah “.[13] Manusia sebagai hamba Allah SWT berkewajiban merealisasi fungsi kekhalifahan dengan meniru contoh akhlaq para Nabi dan Rasul sehingga manusia berfungsi kreatif, mengembangkan diri dan memelihara diri dari kehancuran. Dalam keyakian umat Islam para Nabi dan Rasulullah adalah contoh cara hidup manusia. Dengan demikian hidup dan kehidupan manusia berkembang dan mengarah kepada kesempurnaan, tidak hanya sempurna akhlaknya, tetapi juga sempurna ketuhanannya, sempurna penguasaannya atas dunia benda, termasuk badannya sendiri yang juga benda.

Konsekwensi dari kesempurnaan manusia dalam merealisasikan fungsi kekhalifahan yang sesuai dengan amanat Allah SWT, maka sangat diperlukan adanya pendidikan serta ilmu pengetahuan yang akan menunjang kesuksesannya. Dengan pandangan yang terpadu, sebagai khalifah (kuasa atau wakil) Allah SWT di muka bumi, manusia tidak boleh berbuat kerusakan yang mencerminkan kemungkaran atau bertentangan dengan kehendak Allah SWT. Menurut Abudin Nata, dalam buku yang berjudul “Filsafat Pendidikan Islam” menyatakan bahwa, “konsep al Quran tentang kekhalifahan dan ibadah erat kaitannya dengan pendidikan “.[14] Pendidikan, pengajaran, keterampilan serta pendukung lainnya sangat penting bagi manusia agar dapat melaksanakan fungsi kekhalifahan dan beribadah dengan baik.

Menurut pandangan Islam, manusia yang diamanatkan oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi berada pada posisi derajat yang tinggi, kejadian yang baik/sempurna (ahsan at-taqwim). Posisi yang demikian merupakan tuntutan dari dinamika manusia itu sendiri. Namun, manusia tidak menerima predikat ini dengan tanpa syarat, tetapi ia juga dihadapkan kepada alternatif kehancuran martabat, kerendahan derajat (asfala as-safilin). Tata hubungan vertikal dan horizontal yang dibangun dalam rangka mengemban amanat Allah sebagai khalifah tersebut akan mendesaknya pada salah satu alternatif itu.

Tanggung jawab yang diperankan manusia sebagai khalifah tidak enteng dan tidak sederhana, terutama ketika dirujuk di beberapa ayat al-Quran yang menyebut manusia dengan bentuk jamak dari kata khalifah, yaitu khulafa. Dalam QS. al-A’raf ayat 74, khulafa dilukiskan sebagai masyarakat atau segolongan manusia yang berinteraksi dengan lingkungan fisiknya. Mereka membangun tempat tinggal, dan membangun instansi persinggahan mewah di bukit-bukit serta di dataran rendah. Pada QS. al-An’am ayat 165, menekankan bahwa khalaif diberi status dalam orde ini untuk menguji mereka, sementara ayat lain dari QS. al-Fatir ayat 39, membebankan tanggung jawabnya atas perbuatan tidak adil mereka. Berdasarkan bukti-bukti qurani di atas dinyatakan bahwa umat manusia ditetapkan sebagai khalaif atau khulafa di bawah kondisi-kondisi teretentu. Pemegang jabatan khalifah ini praktis fungsi-fungsinya bukan untuk melepaskan dirinya dari pengawasan Allah.

Dalam menjalankan tugasnya, manusia dipersiapkan Allah dengan fitrah sebagai suatu potensi. Konsep fitrah dalam konteks pendidikan Islam berbeda dengan teori yang menganggap manusia itu sesungguhnya suci bersih. Pendukung aliran Behaviorisme dalam psikologi memandang bahwa manusia itu ketika dilahirkan tidak mempunyai kecenderungan baik maupun jahat. Teori ini yang kemudian disebut dengan teori Tabula Rasa. Lebih jauh, Siddik menyatakan bahwa Islam telah dengan tegas menolak konsep Theistic Mental Discipline yang memandang manusia (peserta didik) memiliki sifat dasar yang bad active, sebagaimana Islam secara tegas menolak adanya “dosa warisan” yang diyakini kalangan Nasrani.

Fitrah yang bermakna asal kejadian, jati diri, atau bawaan sejah lahir (nature) yang dibawa semenjak lahir bagi anak itu sangat besar dipengaruhi oleh lingkungan. Sifat fitrah yang dianugerahkan Allah adalah good active. Fitrah itu sendiri tidak akan berkembang tanpa dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, yang mungkin dapat dimodifikasikan atau dapat diubah secara drastis manakala lingkungannya itu tidak memungkinkan menjadikannya lebih baik. Faktor-faktor eksternal bergabung dengan fitrah, sifat dasarnya bergantung kepada sejauh mana interaksi eksternal dengan fitrah itu berperan. Sebaliknya, menurut pengamat Behaviorisme, fitrah tidak mengharuskan manusia berusaha sekeras tenaga terhadap lingkungannya.

Tambah lagi, konsep fitrah juga menuntut agar pendidikan Islam harus bertujuan mengarahkan pendidikan demi terjalinnya ikatan kuat seorang manusia dengan Allah. Kendatipun para pelajar yang belajar di sekolah tidak bertentangan dengan prinsip mendasar ini. Percaya dan yakin bahwa seorang manusia harus mengakui Allah karena fitrah manusia itu tidak dapat dipadukan dengan teori yang menganggap monoteisme sebagai suatu tingkatan perkembangan kepercayaan beragama. Tauhid dengan demikian telah mempunyai esensi dari semua bentuk agama-agama yang ditunjukkan oleh Allah kepada manusia. Konsep tauhid inilah yang memberi tekanan kekuasaan Allah yang mesti dipatuhi dalam kurikulum pendidikan Islam. Jika ingin mengembangkan pendidikan berkarakter, maka mestilah dibangun berdasarkan paradigma kemanusian islami yang bersifat teosentris.

E. Kesimpulan

Islam sangat memperhatikan tentang proses memanusiakan manusia, hal ini terbukti dengan banyaknya ayat-ayat al-Qur`an yang menjelaskan tentang manusia dari mulai penciptaan, potensi yang dimilikinya, perannya di muka bumi ini dan ditinggikannya derajat manusia dibandingkan dengan makhluk-makhluk Allah yang lainnya, tetapi humanisasi yang diterapkan dalam al-Qur`an tidak meninggalkan peran manusia di bumi ini sebagai hamba yang diwajibkan untuk mengabdi kepada khaliknya.

Manusia dalam pendidikan Islam dipandang sebagai khalifah Allah di muka bumi. Allah membekali manusia dengan potensi fitrah yang mendukung keberadaannya sebagai khalifah Allah. Predikat khalifah tersebut berimplikasi pada tugas yang akan diemban manusia dalam hidupnya. Dalam konteks pendidikan Islam, segenap elemen makro dan mikro pendidikan berorientasi pada pembinaan dan pengembangan potensi fitrah agar manusia secara benar menjadi khalifah Allah di muka bumi.

Paradigma kemanusiaan dalam pendidikan Islam berbeda dengan paradigma kemanusiaan dalam pandangan pendidikan Barat. Perbedaan itu terletak pada sumber nilai moral manusia dan dimensi transenden yang tidak terjangkau oleh psikologi Barat. Pandangan humanistik Barat mengakui bahwa nilai-nilai moral manusia bersumber pada manusia itu sendiri, sementara Islam mengakui sumber nilai moral adalah Allah. Selain itu, psikologi Barat mengkaji rentang perjalanan hidup manusia sejak masa konsepsi hingga kematian. Sementara itu, psikologi Islam kajiannya menjangkau lebih jauh hingga pasca kematian.

 

DAFTAR BACAAN

Abdul Mujib,  Fitrah dan Kepirbadian Islam; Sebuah Pendekatan Psikologis, Jakarta: Penerbit Darul Falah, 1999 M/1420 H

Abdullah, Abdurrahman Saleh. Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Alquran. Terj. Muzayin Arifin dan Zainuddin. Jakarta: Rineka Cipta, 1990.

Abudin Nata,, Filsafat Pendidikan Islam, lagos, Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode pendidikan Islam, Bandung:
CV. Diponogoro, 1992

Ace Partadiredja, Al Qur’an, Mu’jizat, Karomat, Maunat dan Hukum Evolusi Spiritual, PT Dana Bhakti Dana Yasa, Yogyakarta, 1997

Achmadi, Islam Paradigma Ilmu Pendidikan, Yogyakarta : Aditya Media, 1992

Ali Isa Othman, Manusia menurut Al-Ghazali, Bandung: Pustaka Bandung, 1985

Al-Abrasyi, Muhammad Athiyyah. At-Tarbiyah al-Islamiyah wa Falasafatuha. Cet. 2. ttp. Darul Fikri. Tt.

Ancok, Djamaluddin dan Suroso, Fuat Nashori. Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi. Cet. 5. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

Al Rasyidin (ed). Pendidikan & Konseling Islami. Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008.

Al Rasyidin (ed.). Pendidikan & Psikologi Islami. Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2007.

Arifin, Isep Zainal. Bimbingan Penyuluhan Islam: Pengembangan Dakwah Melalui Psikoterapi Islam. Jakarta: Rajawali Press. 2009.

Arifin, Muzayyin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), Bumi Aksra, Jakarta, 1995

——-,  Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di Lingkungan Sekolah dan Keluarga. Cet. 2. Jakarta: Bulan Bintang, 1976.

——-,  Pokok-pokok Pikiran tentang Bimbingan dan Penyuluhan Agama di Sekolah dan di Luar Sekolah. Cet. 2. Jakarta: Bulan Bintang, 1977.

Asari, Hasan dan Drajat, Amroeni. Antologi Kajian Islam. Bandung: Citapustaka Media, 2004.

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998

Bastaman, Hanna Djumhana. Integrasi Psikologi dengan Islam Menuju Psikologi Islami. Cet. 5. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.

Chairil Anwar, Islam dan Tantangan Abad XXI, Pustaka Pelajar Offset, Yogyakarta, 2000

Dahlan, Abdul Choliq. Bimbingan & Konseling Islami: Sejarah, Konsep dan Pendekatannya. Yogyakarta: Pura Pustaka, 2009.

Gulo, Dali. Kamus Psychologi. Bandung: Tonis, 1982.

Hasan, Aliah B. Purwakania. Psikologi Perkembangan Islami: Menyingkap Rentang Kehidupan Manusia dari Prakelahiran hingga Pascakematian. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.

Hasan, Chalijah. Dimensi-dimensi Psikologi Pendidikan. Surabaya: Al-Ikhlas, 1994.

King Abdul Aziz University. Recommendations: World Conference on Muslim Education. Jakarta: Inter Islamic University Cooperation of Indonesia, 1977.

Langgulung, Hasan. Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam. Bandung: Al-Ma’arif, 1980.

——-,  Teori-teori Kesehatan Mental. Cet. 2. Jakarta: Pustaka Al Husna, 1992.

——-,  Kreativitas dan Pendidikan Islam: Analisis Psikologi dan Falsafah. Jakarta: Pustaka Al Husna, 1991.

——-,  Pendidikan Islam dalam Abad ke 21. Cet. III. Jakarta, Pustaka Al Husna Baru, 2003.

Lubis, Lahmuddin. Landasan Formal Bimbingan Konseling di Indonesia. Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2012.

Lubis, Saiful Akhyar. Konseling Islami dan Kesehatan Mental. Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2011.

——-,  Pendidikan dan Psikologi Islami. Bandung: Citapustaka Media Bandung. 2007.

Martin Lings, Muhammad: Kisah hidup Nabi Berdasarkan sumber Klasik, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2007

  1. Quraish Shihab, Membumikan Al Qur’an, Mizan, Bandung, 1994

 

Muhaimin. Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam. Jakarta, Rajawali Press, 2011.

——-,  Rekonstruksi Pendidikan Islam: Dari Paradigma Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers, 2009.

Mujib, Abdul. Kepribadian dalam Psikologi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.

Najati, Muhammad Utsman. Psikologi dalam Alquran: Terapi Qurani dalam Penyembuhan Gangguan Kejiwaan. Terj. M. Zaka Alfarisi. Bandung: Pustaka Setia, 2005.

Neviyarni. Pelayanan Bimbingan dan Konseling Berorientasi Khalifah Fil Ardh. Bandung: Alfabeta, 2009.

Nurihsan, Achmad Juntika. Bimbingan & Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan. Cet. 3. Bandung: Refika Aditama, 2009.

Prayitno dan Amti, Erman. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Cet. 2. Jakarta: Rineka Cipta, 2004.

Sukardi, Dewa Ketut dan Kusmawati, Desak P.E. Nila. Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta, 2008.

Az-Za’balawi, Sayyid Muhammad. Pendidikan Remaja antara Islam dan Ilmu Jiwa. Terj. Abdul Hayyie al-Kattani, dkk. Jakarta: Gema Insani, 2007.

 

[1] Karnadi Hasan “Konsep Pendidikan Jawa”, dalam Jurnal Dinamika Islam dan Budaya Jawa, No 3 tahun 2000, Pusat Pengkajian Islam Strategis, IAIN Walisongo Semarang, 2000, hal. 29.

[2] Paulo Freire dalam Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman (Pilihan Artikel Basis), Sindhunata (editor), Kanisius, 2001 sebagaimana di kutip dalam Resensi Amanat, Edisi 84/Februari 2001 hal. 16.

[3] Pengantar Malik Fadjar dalam Imam Tholkah, Membuka Jendela Pendidikan, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004, hal. v

[4]  Achmadi, Islam Paradigma Ilmu Pendidikan, Yogyakarta : Aditya Media, 1992, hal. 16.

[5] Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode pendidikan Islam, (Bandung:
CV. Diponogoro, 1992), hal. 31.

[6]Ali Isa Othman, Manusia menurut Al-Ghazali, (Bandung: Pustaka Bandung, 1985), hal. 15-16.

[7] Abdul-Rahman Saleh Abdullah, Educational Theory; A Quranic Outlook, (Makkah al-Mukarramah: Faculty of Education, Umm al-Qura University, 1402/1982), hal. 60.

[8] Abdul Mujib,  Fitrah dan Kepirbadian Islam; Sebuah Pendekatan Psikologis, (Jakarta: Penerbit Darul Falah, 1999 M/1420 H), hal. 20

[9]  Yustina Rostiawati, Etika Sosial, (jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,1993), hal. 18-19

[10]  Fazlur Rahman, Penyunting Taufik Adnan Amal, Metode dan Alternatif Neomodernisme Islam, (Bandung: Mizan, 1987), hal. 90

[11]  Humaidi Tatapangarsa, Kuliah Aqidah Lengkap, (Surabaya: Bina Ilmu, 1990), hal. 13-15

[12]  Chairil Anwar, Islam dan Tantangan Abad XXI, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset,  2000), hal. 126.

[13] Ace Partadiredja, Al Qur’an, Mu’jizat, Karomat, Maunat dan Hukum Evolusi Spiritual, (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Dana Yasa, 1997), hal. 100.

[14] Abudin Nata,, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: lagos, Wacana Ilmu, 1997), hal. 41.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *