Berpolitik Elegan Tanpa Menebar Hoax : Mardianton, S.EI, M. Pd

Berpolitik Elegan Tanpa Menebar Hoax

Oleh: Mardianton

Wakil Ktua II STAI Balaiselasa

 

 

Pilkada Serentak tinggal hitungan bulan. Sesuai dengan lounching KPU Pesisisr Selatan yang dilaksanakan di gedung PCC Painan pada hari Kamis tanggal 23 Oktober 2019, bahwa Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Pesisir Selatan dilaksanakan pada hari Rabu 23 September 2020.

Tahapan demi tahapan pelaksanaan Pilkada 2020 telah dan akan dilaksanakan, mulai dari rekrutmen Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) oleh Bawaslu Pesisir Selatan sampai kepada pembentukan Panitia Pelaksana Kecamatan (PPK) oleh KPU Pesisir Selatan, dan selanjutnya akan dilaksanakan rekrutmen pelaksana Pemilu di tingkat kenagarian se Pesisir Selatan. Ini merupakan sebuah sinyal bahwa Pemilu Kada sudah di ambang mata.

Bagi pelaku dan pemain politik hitungan bulan bukan waktu yang panjang, apalagi secara nyata aktivitas politik sudah mulai dimainkan dalam keseharian. Mulai dari membangun opini, membuat dan menyebarkan berita hoax, bahkan sampai menggoreng isu yang beredar, dengan tujuan melumpuhkan lawan yang ada didepan mata. Padahal semua itu belum pasti kebenaranya, akan tetapi demi melumpuhkan lawan cara-cara yang tidak elegan tersebut cenderung dilakukan oleh pelaku dalam permainan politik.

Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain: politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles). Dalam arti lain politik juga dapat dikatakan sebagai usaha untuk memperoleh kekuasaan, memperbesar atau memperluas serta mempertahankan kekuasaan (politics).

Menurut saya, politik itu merupakan strategi atau pun cara yang dilakukan baik dan oleh pelaku maupun tim sukses dalam mencapai tujuan tertentu. Maka untuk mencapai sebuah tujuan dalam dunia politik, apapun akan dilakukan oleh sebagian (oknum), meskipun gerak dan langkahnya itu berlawanan dengan nilai-nilai adat, sosial budaya, agama dan bahkan undang-undang yang berlaku.

 

Berita Hoax dalam Islam

Dalam Islam sebagaimana Allah SWT telah mewanti-wanti umat Islam untuk tidak gegabah dalam membenarkan sebuah berita yang disampaikan oleh orang-orang fasik yang termasuk di dalamnya orang-orang yang belum diketahui secara jelas sikap dan perilaku (kejujuran)-nya.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita. Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS al-Hujurat:6)

Dalam konteks hari ini, kita dituntut agar berhati-hati dalam menerima pemberitaan dari media apapun, terlebih media atau informasi dari seseorang yang isinya sarat dengan muatan kebencian kepada pihak lain.

Dalam ajaran Islam, berbohong merupakan perbuatan tercela. Pembuatan berita hoax merupakan sebuah kejahatan yang bisa menyesatkan kesadaran para pembaca atau pendengarnya. Dalam adabud dunya waddin, Imam al-Mawardi (beberapa sumber menisbatkan perkataan ini kepada Hasan ibn Sahal) mengatakan bahwa pembuat berita hoax diibaratkan perbuatan mencuri akal sehat (penerima pesannya).

Artinya, “Dikatakan dalam Mantsurul Hikam bahwa pendusta adalah ‘pencuri’. Kalau pencuri itu mengambil hartamu, maka pendusta itu mencuri akalmu,” (Lihat Al-Imam Al-Mawardi, Adabud Dunya wad Din, [Beirut: Darul Fikr, 1992 M/1412 H], halaman 191).

Selain itu, menurut Imam Al-Mawardi dalam kitab yang sama juga dijelaskan bahwa efek negatif dari pemberitaan hoax adalah hilangnya rasa aman dan rasa tenteram. Yang ada kecurigaan, waswas, dan ketegangan.

 

Allah berfirman dalam Surah An-Nur ayat: 11:

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar

Perlu kita pahami bahwa ; Bohong itu merupakan pusat kejahatan dan asal segala perilaku tercela karena keburukan konsekuensi dan kekejian dampaknya. Tidakan atau perkataan bohong mampu melahirkan adu domba antara sesame kita, dimana adu domba menghasilkan kebencian. Sedangkan kebencian mengundang permusuhan. Di dalam suasana permusuhan tidak ada rasa aman dan relaksasi.

Mari berpolitik secara baik dan elegan tanpa melumpuhkan lawan. “Iduik an lampu awak, jan matian lampu kawan”. Artinya, ketika dalam masa politik ada jagoan yang akan kita promosikan “kita jual”, maka jangan dilemahkan jagoan orang lain, cukup promosikan saja jagoan kita. Jika kita mengkritik lawan politik kita, kritiklah dengan baik dan menawarkan solusi. Jika itu tidak mampu untuk kita lakukan, maka jangan mengkritik lawan politik kita.

Ada hal yang perlu dipahami bawa antara kritikan dengan hasutan beda-beda tipis. Apalagi kritikan yang kita lontarkan tersebut tidak berdasarkan hasil observasi yang objektif dan hanya menerima informasi dari informan yang perlu dipertanyakan kebenarannya.

Puji lawan ketika dia punya prestasi, koreksi/kritik ketika ada ketimpangan. Jadi ada perimbangan, dan terkesan tidak tertuju satu arah yaitu kekurangannya saja, sedangkan kebaikannya ditutupi bahkan seolah-olah salah terus. Maka dari itu, mari kita saling menjaga komunikasi perpolitikan kita secara baik dan elegan agar hasil dari perpolitikan kita baik juga dan bermanfaat untuk bangsa dan agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *