H. Guslianto: Perbandingan Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dengan KH. Hasyim Asyari tentang Pendidikan Islam

Perbandingan Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dengan KH. Hasyim Asyari tentang Pendidikan Islam

Oleh:

H. Guslianto, MA.

(Dosen STAI Balaiselasa Mengajar Mata Kuliah Materi Pendidikan Agama Islam)

 

Abstrak

 

Pada Abad ke 20, dunia Pendidikan Islam masih ditandai oleh adanya system pendidikan dikotomis antara pendidikan agama dan pedidikan umum. Di satu segi terdapat madrasah yang mengajarkan pendidikan agama tanpa mengajarkan pendidikan umum, dan disatu sisi terdapat lembaga pendidikan umum yang tidak mengajarkan agama. Pendidikan Islam saat itu tidak memiliki visi, misi dan tujuan yang jelas, terutama jika dihubungkan dengan perkembangan masyarakat. Umat Islam berada dalam kemunduran yang diakibatkan oleh pendidikan yang Tradisional. KH.  Ahmad Dahlan adalah Tokoh pembaru Pendidikan Islam dari Jawa yang berupaya untuk memasukan pendidikan umum ke dalam kurikulum madrasah, dan memasukam pendidikan Agama ke dalam lembaga pendidikan umum. Disamping itu ada pula Organisasi Islam yang lainnya yang bernama Nahdatul Ulama ( NU ), Sebuah Organisasi yang didirikan oleh KH. Hasyim Asyari. Ia mengembangkan Pendidikan Agama Islam dengan lembaga pendidikan yang bernama Pesantren Tebu Ireng. Tulian ini mengkaji perbandingan pemikiran KH.Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asyari tentang pendidikan Islam terutama aspek tujuan, metode serta kurikulum dan materi pendidikan agama Islam.

Kata Kunci: Perbandingan Pemikiran, KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asyari, Pendidikan Islam

 

Pendahuluan

Hidup bermasyarakat sangat dianjurkan dalam agama Islam untuk menjalankan hidup dan kehidupan manusia di dunia ini. Masyarakat yang sejahtera, aman , damai, makmur dan bahagia hanyalah dapat diwujudkan di atas keadilan, kejujuran, persaudaraan dan gotong royong, serta tolong menolong bersendikan hukum Islam yang sebenar-benarnya, terlepas dari pengaruh syaithan atau hawa nafsu.

Agama Islam yang dbawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang biaksana dan berjiwa suci adalah satu-satunya pokok hukum dalam masyarakat yang utama dan sebaik-baiknya, menjunjung tinggi hukum syariat Islam lebih daripada hukum yang manapun juga, adalah kewajiban mutlak bagi tiap-tiap yang mengaku ber-Tuhan Allah SWT.

Agama Islam adalah satu-satunya agama yang benar disisi Allah SWT, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Ali-Imran ayat 19

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Artinya: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah   hanyalah Islam[1] (Ali-Imran, ayat 19).

 

Menurut tafsir Al-Maraghi “ Sesungguhnya semua Agama dan Syariat yang didatangkan olah para Nabi, ruh atau intinya adalah Islam (menyerahkan diri), tunduk dan menurut. Meskipun dalam beberapa bentuk kewajiban dan bentuk amal agak berbeda, hal ini pulalah yang selalu diwasiatkan oleh para Nabi.[2]

Dari Ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa agama selain dari agama Islam tidak benar menurut konsep Islam, maka beruntunglah orang-orang yang telah mendapat hidayah dari Allah SWT, yang menjadikan Islam sebagai pandangan hidupnya dan rugilah orang-orang yang menjadikan selain dari Islam sebagai pandangan hidupnya. Karena agama yang diyakini selain dari agama Islam tidak diterima disisi-Nya. Hal ini sesuai dalam Al-Quran Surat Ali-Imran Ayat 85 yang berbunyi:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

 Artinya: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-  kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.[3] (Ali-Imran ayat 85).

 

Menurut Tafsir Al-Maraghi “ Allah SWT mensyariatkan Agama karena dua hal :

  1. Untuk membersihkan rohani dan membebaskan akal dari berbagai kotoran akidah, yang menganggap hal-hal ghaib itu berkuasa atas makhluk. Sehingga dengan kekuatan ghaib tersebut, seseorang bisa mengatur makhluk hidup sekehendaknya yang bertujuan agar orang tunduk dan menyembah siapa saja yang dianggap semisal ( artinya bukan Tuhan )
  2. Meluruskan dengan cara memperbaiki dan ikhlas dalam berniat baik karena atau untuk menolong sesama.[4]

Dalam ayat lain juga ditegaskan oleh Allah SWT dalam surat  Al-Maidah ayat 3. Berbunyi:

وَاخْشَوْنِالْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Artinya: “ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai      Islam itu Jadi agama bagimu. [5] (Al-maidah, ayat 3

Dari ayat di atas, jelaslah bahwa Islam adalah Agama yang benar dan diterima oleh Allah SWT diridhoi-Nya untuk kebahagiaan hamba-Nya baik di dunia maupun di akhirat. Sebagai umat Islam haruslah berkewajiban untuk menjaga, mengembangkan dan memelihara kemurnian ajaran Islam tersebut.

Untuk menciptakan masyarakat yang bahagia dunia dan akhirat hendaklah tiap-tiap orang yaitu umat Islam, umat yang percaya akan Allah SWT dan hari kemudian wajib mengikuti jejak para Nabi yang suci, beribadah hanya kepada Allah SWT dan berusaha dengan segala upaya mengumpulkan segenap kekuatan dan menggunakannya untuk menyembah Allah SWT. Kemudian disampaikan kepada masyarakat di dunia ini, dengan niat yang murni, tulus, dan ikhlas hayan kepada Allah SWT semata-mata dan hanya mengharap karunia dan ridho-Nya belaka, serta mempunyai rasa tanggung jawab dihadirat Allah SWT harus sabar dan tawakal serta penuh ketabahan dalam menghadapi segala kesukaran dan rintangan yang mengahalangi.

Demi melaksanakan terwujutnya masyarakat yang demikian itu. Maka berdasarkan firman Allah SWT, dalam Al-Quran surat Ali-Imran ayat 104 yaitu:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.[6] (Ali-Imran, ayat 104).

 

Menurut Al- Maraghi ayat di atas adalah : “ Hendaklah ada di antara kalian satu golongan yang membeda, bekerja untuk dakwah, Amar makruf dan Nahy mungkar.

Orang yang diajak bicara dalam ayat ini ialah kaum mukmin seluruhnya, mereka terkena taklif agar memilih sustu golongan yang melaksanakan kewajiban ini. Realisasinya adalah hendaknya masing-masing anggota kelompok tersebut, mempunyai dorongan dan mau bekerja  untuk mewujudkan hal ini dan mengawasi perkembangannya dengan kemampuan optimal, sehingga bila mereka melihat kekeliruan atau penyimpangan dalam hal ini ( Amar makruf Nahi mungkar) segera mereka mengembalikannya ke jalan yang benar.[7]

Untuk merealisasikan penjelasan ayat di atas, perlu adanya segolongan umat Islam yang bergerak dalam bidang dakwah yang akan selalu memberi peringatan apabila nampak gejala-gejala penyelewengan dan perpecahan. Karena itu pada ayat ini diperintahkan agar di antara umat Islam ada segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari yang mungkar.

Di antara segolongan umat itu adalah organisasi Muhammadiyah dan organisasi Nahdatul Ulama (NU). Organisasi Muhammadiyah yang didirikan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H, bertepatan dengan 18 Nofember 1912 yang dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan. Sebagai gerakan Islam yang disusun dengan majlis-majlis mengikuti peredaran zaman serta berdasarkan “Syura” yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan (Muktamar).[8]

Tujuan organisasi Muhammadiyah adalah:

Menyebarkan pengajaran Rasulullah kepada penduduk Bumi Putra, dan memajukan hal agama Islam kepada anggotanya. Untuk mencapai maksud ini Muhammadiyah mendirikan lembaga pendidikan (Tingkat dasar sampai ke Perguruan Tinggi), mengadakan rapat-rapat dan tabligh, mendirikan badan waqaf dan masjid, serta menerbitkan buku-buku, brosur, surat kabar dan majalah. Sementara untuk menumbuhkan semangat patriotisme para anggotanya, Muhammadiyah membentuk suatu wadah bagi para pemudanya melalui Hisbul Wathan dan Aisyiah sebagai wadah kreatifitas bagi perempuan.[9]

Menurut KH. Ahmad Dahlan yang dikutip oleh Ramayulis “Upaya strategis untuk menyelamatkan umat Islam dari pola berpikir statis menuju kepada pemikiran dinamis adalah melalui pendidikan.[10]

Oleh karena itu hendaknya pendidikan ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat. Mereka hendaknya dididik agar cerdas, kritis dan memiliki daya analisis yang tajam dalam memetadinamikakan kehidupannya pada masa depan.

Menurut HM. Arifin yang dikutip oleh Abuddin Nata menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah:

Sebagai bimbingan bagi pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengawasi berlakunya semua ajaran Islam. Istilah membimbing, mengarahkan, mengasuh, mengajarkan dan melatih mengandung pengertian usaha mempengaruhi jiwa anak didik melalui proses setingkat demi setingkat menuju tujuan yang ditetapkan, yaitu menanamkan takwa dan ahklak serta menegakkan kebenaran sehingga terbentuklah manusia yang berpribadi dan berbudi luhur sesuai ajaran Islam.[11]

Sedangkan Pendidikan Islam menurut Hasan Langgulung yang dikutip oleh Sasminelwati adalah”Pendidikan yang menyiapkan generasi untuk  masa yang akan datang demi kelangsungan hidup masyarakat itu secara Islami”.[12]

Dari defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam itu merupakan bimbingan yang dilakukan setingkat demi setingkat oleh seseorang agar ia berkembang maksimal sesuai dengan ajaran Islam dan menjadi generasi penerus untuk masa yang akan datang.

Sesuai dengan Undang-Undang Sisdiknas Pasal 3 Nomor 20 Tahun 2003 yang berbunyi: “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”.[13]

Rumusan di atas mendeskripsikan bahwa kualitas pendidikan Indonesia tidak saja membentuk kualitas intelektual seperti pendidikan barat, tetapi juga dapat membentuk kualitas kepribadian (identitas) yang bermartabat dihiasi akhlak luhur sebagai salah satu ciri manusia yang berkualitas, dan selalu mempunyai pola pemikiran yang dinamis.

Pada Abad ke 20  dunia Pendidikan Islam masih ditandai oleh adanya system pendidikan dikotomis antara pendidikan agama dan pedidikan umum. Di satu segi terdapat Madrasah yang mengajarkan pendidikan agama tanpa mengajarkan pendidikan umum, dan disatu sisi terdapat lembaga pendidikan umum yang tidak mengajarkan agama.[14]

Pendidikan Islam saat itu juga tidak memiliki visi, misi dan tujuan yang jelas, terutama jika dihubungkan dengan perkembangan masyarakat. Umat Islam berada dalam kemunduran yang diakibatkan oleh pendidikan yang tradisional. Seperti jika salah satu pesantren yang didirikan oleh seorang kiyai dan kiyai tersebut meninggal dunia maka pesantren tersebut lambat laun akan  mengalami kemunduran.

 

Ahmad Dahlan merupakan salah seorang tokoh pembaharu pendidikan Islam dari Jawa yang berupaya untuk memasukkan pendidikan umum ke dalam kurikulum madrasah, dan memasukam pendidikan agama ke dalam lembanga pendidikan umum.[15]

 

Ahmad Dahlan adalah seorang tokoh yang telah berhasil mengembangkan dan menyebarluaskan gagasan pendidikan modern ke seluruh pelosok tanah air melalui organisaai Muhammadiyah yang didirikannya dan hingga kini masih menunjukan  eksistensinya secara fungsional.

Untuk mewujudkan ide pembaruannya di bidang pendidikan maka Dahlan merasa perlu untuk mendirikan lembaga pendidikan yang berorientasi pada pendidikan modern yaitu dengan menggunakan system klasikal.[16]

Di samping itu ada pula organisasi Islam yang lainnya yang bernama Nahdatul Ulama (NU), sebuah organisasi yang didirikan oleh KH. Hasyim Asyari pada tahun 1926 di Jawa Timur. Organisasi ini bertujuan mempertahankan ajaran Ahlus Sunah Waljamaah serta tradisi Islam ini berupaya membangun sumber daya manusia melalui lembaga pendidikan Islam, sifat dan corak pendidikan Islam yang diselenggarakan lembaga pendidikan ini, pada mulanya bersifat tradisional dengan mengajarkan hanya ilmu agama saja dengan system halaqah, kemudian baru mengajarkan pula ilmu umum dengan menggunakan system madrasah.[17]

 

Hasyim Asyari mengembangkan pendidikan agama Islam dengan lembaga pendidikan yang bernama Pesantren Tebu Ireng yang didirikannya pada tanggal 6 februari 1919[18]

 

Pelajaran di Tebu Ireng pada permulaanya hanya mementingkan pengajaran Agama dan bahasa Arab semata, sama juga keadaanya dengan pesantren-pesantren dan surau-surau lain di seluruh Indonesia.[19]

Hal ini tidak heran karena kiyai-kiyai dan ulama-ulama Indonesia pada masa itu sama-sama belajar di Mekkah bertahun-tahun lamanya, kemudian kembali ke Indonesia untuk mengembangkan ilmu-ilmu yang telah mereka tuntut di Mekkah itu.

Lama pelajaran di pondok pesantren itu tidak ditentukan. Murid-murid yang cerdas dan rajin lekas tamat pelajarannya dan cepat pandai, sehingga dapat menjadi guru bantu sedangkan murid-murid yang bodoh serta malas sampai bertahun-tahun lamanya tidak juga tamat pelajarannya, kadang-kadang keluar dengan tangan hampa saja. Pesantren itu tidak memberikan ijazah atau surat tamat belajar.[20]

Kitab-kitab pelajaran yang dipakai pada pondok pesantren itu hampir sama juga dengan kitab-kitab pelajaran yang  dipakai di surau-surau di Sumatera. Karena memang sumber dan pusatnya satu, yaitu Mekkah tanah suci, tempat pendidikan dan pengajaran Islam bagi seluruh alim ulama Indonesia pada masa itu.

 

Ahmad Dahlan dengan KH. Hasyim Asyari adalah sama-sama tokoh pendidikan Islam, akan tetapi berbeda dalam tujuan, metode, materi dan kurikulum pendidikan Islam.

 

Pada masa KH. Hasyim Asyari menimba ilmu di kota Mekkah, saat itu Muhammad Abduh sedang giat-giatnya melancarkan pembaruan pemikiran Islam. Ide-ide pembaruannya antara lain berkenaan dengan usahanya mengajak ummat Islam agar memurnikan ajaran Islam dari pengaruh dan praktik keagamaan yang bukan berasal dari ajaran Islam yang sebenarnya, mereformasi pendidikan Islam pada tingkat universitas, merumuskan kembali ajaran Islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat modern, serta mempertahankan Islam. Hal itu ditujukan untuk mengembalikan tanggung jawab ummat Islam dalam bidang sosial, politik dan pendidikan, menurutnya hal yang demikian itu akan bisa terjadi apabila ummat Islam melepaskan keterikatannya dari pola pikir mazhab. Menyikapi hal yang demikian ini Hasyim Asyari tidak menolak ide-ide Abduh tersebut, namun Hasyim Asyari berkeyakinan bahwa ummat Islam tidak mungkin memahami maksud Al-Qur’an dan Hadits yang sesungguhnya tanpa mempelajari pendapat para ulama besar yang tergabung dalam sistem mazhab.[21]

 

Pembahasan

Perbandingan Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dengan KH. Hasyim Asyari tentang Tujuan Pendidikan Islam

 

Pemikiran KH. Ahmad Dahlan tentang Tujuan Pendidikan Islam

Pelaksanaan Pendidikan Islam menurut Ahmad Dahlan hendaknya didasarkan pada landasan yang kokoh. Landasan ini merupakan kerangka filosofi bagi rumusan konsep dan tujuan ideal pendidikan Islam, baik secara vertikal (khaliq) maupun horizontal (makhluk).[22] Dalam pandangan Islam, paling tidak ada dua sisi tugas penciptaan manusia, yaitu Abdillah dan khalifah fi-al-ardhi.[23] Dalam proses kejadiannya, manusia diberikan Allah dengan al-ruh dan al-aql. Untuk itu pendidikan hendaknya menjadi media yang dapat mengembangkan potensi al-ruh untuk menalar petunjuk pelaksanaan ketundukkan dan kepatuhan manusia kepada khaliqnya.[24] Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa eksistensi akal merupakan potensi dasar bagi peserta didik yang perlu dipelihara dan dikembangkan guna menyusun kerangka teoritis dan metodologi dalam hal menata hubungan yang harmonis secara vertikal maupun horizontal dalam konteks tujun penciptaannya.

Islam menekankan kepada umatnya untuk mendayagunakan semua kemampuan yang ada pada dirinya dalam memahami fenomena alam semesta, baik alam mikro maupun alam makro akal, akan tetapi al-qur’an juga mengakui keterbatasan kemampuan akal. Ada realitas fenomena yang tak dapat dijangkau oleh indra akal manusia. Hal ini dapat dilihat dalam surat Ar-Rad ayat 2:

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

Artinya: “Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian dia bersemayam diatas ‘Arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu.[25]

 

Menurut Muhammad Qurais Syihab dalam tafsirnya Al-Misbah:

Allah SWT, yang menurunkan al-qur’an. Allah juga yang meninggikan langit yakni menjadikannya tinggi sejak penciptaannya dalam keadaan tanpa tiang penyanggah yang dapat kamu lihat dengan mata kepala kamu semua, atau yang kamu lihat ketiadaannya dengan mata kepala kamu, kemudian dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan antara lain guna kemaslahatan makhluk masing-masing dari matahari dan bulan itu beredar secara teratur untuk waktu yang ditentukan oleh-Nya. Ini setahun dan itu sebulan, atau hingga waktu yang telah ditentukan bagi kepunahan matahari dan bulan serta kehancuran alam raya. Allah mengatur rurusan makhluk-Nya baik yang dilangit maupun yang dibumi. Allah menyiapkan bagi mereka sarana kehidupan rohani dan jasmani, menjelaskan ayat-ayat yakni tanda-tanda keesaan dan kebesaran-Nya, supaya kamu meyakini pertemuan kamu dengan Tuhan kamu.[26]

Pendapat di atas menjelaskan bahwa agama Islam memberikan perintah melalui Al-qur’an kepada umatNya untuk mempergunakan akal dan fikiran serta kemampuan yang ada dalam dirinya tentang penciptaan langit dan bumi. Akan tetapi dia juga mempunyai keterbatasan karena ada hal-hal dalam penciptaan yang tak bisa dijangkau oleh akal dan indra manusia.

Dan juga yang terdapat dalam firman-Nya surat Luqman ayat 10:

خَلَقَ السَّمَوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَأَلْقَى فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ

Artinya : “Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan dia meletakkan gunung-gunung (dipermukaan) bumi agar ia (bumi) tidak menggoyangkan kamu dan memperkembang biakkan segala macam jenis makhluk bergerak yang bernyawa di bumi. Dan kami turunkan air hujan dari langit, lalu kamu tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.[27]

Menurut M. Qurais Sihab dalam tafsirnya Al-Misbah:

Dia menciptakan langit yang demikian tinggi dan besar tanpa tiang yang kamu melihatnya dengan mata kepala seperti itu, dan dia meletakkan dipermukaan bumi yang merupakan hunian kamu gunung-gunung yang sangat kukuh sehingga tertancap kuat supaya ia yakin bumi itu tidak goncang bersama kamu, kendati ia lonjong dan terus berputar, dan ia mengembang biakkan disana segala jenis binatang yang berakal, menyusui, bertelur, melata, dan lain-lain, dan kami turunkan air hujan dari langit-, baik yang cair maupun yang membeku, lalu kami tumbuhkan padanya setelah pencampuran tanah dengan air yang turun itu segala macam pasangan tumbuh-tumbuhan yang baik.[28]

Hal ini disebabkan, karena wujud yang ada di alam ini memiliki dua dimensi, yaitu fisika dan metafisika. Manusia merupakan integrasi dari kedua dimensi tersebut, yaitu dimensi ruh dan jasad. Hal ini berarti bahwa dalam epistemologi pendidikan Islam, ilmu pengetahuan diperoleh apabila peserta didik (manusia) mendaya gunakan berbagai media, baik yang diperoleh melalui persepsi inderawi, akal, kalbu, wahyu maupun ilham. Oleh karena itu aktivitas pendidikan dalam Islam hendaknya memberikan kemungkinan yang sebesar-besarnya bagi pengembangan kesemua dimensi tersebut.

Menurut KH. Ahmad Dahlan, “Pengembangan tersebut hendaknya merupakan proses integrasi ruh dan jasad. Konsep ini diketengahkannya dengan menggariskan perlunya pengkajian ilmu pengetahuan, secara langsung, sesuai prinsip al-qur’an dan sunnah, bukan semata-mata dari kitab-kitab tertentu.[29]

Upaya mengaktualisasikan gagasan tersebut bukan merupakan hal yang mudah, terutama bila dikaitkan dengan kondisi lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional waktu itu. Ia melihat bahwa problem epistemologi dalam pendidikan Islam tradisional disebabkan karena ideologi ilmiahnya hanya terbatas pada dimensi religius yang membatasi diri pada pengkajian kitab-kitab klasik para mujtahid terdahulu, khususnya dalam mazhab syafi’i. ideologi ilmiah semacam ini digunakan sebagai pelindung oleh kelompok tradisional guna mempertahankan semantik statis terhadap epistemologis yang dikembangkannya. Sikap ilmiah yang demikian menyebabkan lahirnya pemikir “pemamah” yang tidak mampu mengolah dan menganalisa secara kritis ilmu pengetahuan yang diperoleh, sehingga mereka kurang mampu berkompetisi secara produktif dan kreatif terhadap perkembangan peradaban kekinian”. [30]

Dari paparan di atas KH. Ahmad Dahlan menegaskan bahwa Islam adalah agama yang menghendaki cara berfikir modernis. Dan prinsip ini juga ditegaskan oleh Allah dalam alqur’an, bahwa tidak akan terjadi perubahan (pembaruan) pada suatu kaum, kecuali kaum tersebut berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan perubahan tersebut, oleh karena itu Islam mendorong umatnya untuk meningkatkan kreatifitas berfikirnya kearah yang lebih maju.

Sesuai dengan firman Allah dalam surat Ar-Ra’d ayat 11 yang artinya:

“… sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri …”[31]

 

Menurut M. Qurais Shihab dalam Tafsirnya Al-Misbah :

Ayat tersebut berbicara tentang perubahan sosial, bukan perubahan individu. Ini dipahami dari penggunaan kata (qaum)/masyarakat. Selanjutnya dari sana dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan sosial tidak dapat dilakukan oleh seorang manusia saja. Memang, boleh saja perubahan bermula dari seseorang, yang ketika ia melontarkan dan menyebarluaskan ide-idenya, diterima dan menggelinding dalam masyarakat. Pola pikir dan sikap perorangan itu”menular” kepada masyarakat luas, lalu sedikit demi sedikit “mewabah” kepada masyarakat luas.[32]

Dari pendapat di atas dapat dipahami bahwa KH. Ahamad Dahlan melakukan sebuah upaya untuk melakukan perubahan-perubahan, yang sesuai dengan prinsip Al-Quran dan Sunnah. Karena agama islam juga mengajak umatnya untuk melakukan perubahan-perubahan kearah yang lebih maju dan lebih baik.

Untuk mewujudkan ide pembaharuannya dibidang pendidikan, KH. Ahmad Dahlan merasa perlu untuk mendirikan Lembaga Pendidikan yang berorientasi pada pendidikan yang berorientasi pada pendidikan modern, yaitu dengan menggunakan sistem klasikal. Pada tahun 1911 ketika ia mulai mendirikan sekolah Muhammadiyah, ia tidak memisahkan pelajaran agama dan pelajaran umum. Apa yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan waktu itu adalah merupakan hal yang masih cukup langka dilakukan oleh Lembaga Pendidikan Islam. Disini ia menggabungkan sistem pendidikan Belanda dengan sistem Pendidikan tradisional secara integral.[33]

Berpijak pada pandangan diatas, sekolah Muhammadiyah tidak lagi memisahkan antara pelajaran agama dan pelajaran umum. Sebab pada dasarnya pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum adalah akibat dan pengaruh dari penjajah belanda, yang memisahan urusan dunia dan akhirat. Dan itu bukanlah merupakan pelajaran Islam yang benar. Maka untuk menjamin sistem dan isi pendidikan yang diharapkan dapat membawa kepada pendidikan Islam yang sebenarnya, ia mendirikan suatu organisasi atau pekumpulan yang mampu pengurus dan mengelola sistem pendidikan tersebut.

Komitmen KH. Ahmad Dahlan terhadap pendidikan Agama demikian kuat, oleh karena itu, diantara faktor utama yang mendorongnya masuk organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1909 adalah untuk mendapatkan peluang memberikan pengajian Agama kepada para anggotanya. Strategi yang ditempuhnya dimaksudkan untuk membuka kesempatan memberikan pelajaran Agama disekolah-sekolah p[emerintah. Pendekatan ini dilakukan karena para anggota organisasi Boedi Oetomo pada umumnya bekerja di sekolah dan kantor pemerintah waktu itu. Komitmennya terhadap pendidikan Agama selanjutnya menjadi salah satu ciri khas organisasi yang didirikannya yaitu organisasi Muhammadiyah.[34] 

 

Pemikiran KH. Hasyim Asyari tentang Tujuan Pendidikan Islam

Dalam Sejarah Pendidikan Islamtransional, khususnya di jawa, KH Asyim Asyari digelari Hadratus Syaikh (Guru Besar di lingkungan pesantren), karena peranannya  yang sangat besar dalam pembentukan kader-kader  ulama pimpinan pesantren mislanya, pesantren Asem bagus di situ bondo. Jawa Timur, pesantren Lirboyo di kediri, dan lain-lain. Ketokohan Hasyim Asyari sangat ideal untuk seorang pemimpin selain mengembangkan Pendidikan Islam melalui lembaga pesantren dan organisasi sosial keagamaan, ia pun aktif di organisasi politik melawan kolonial. Umat Islam diharamkan berkompromi dan menerima bantuan a papun dari belanda, perjuangan melawan belanda adalah jihad (perang suci).[35]

Orientasi pemahaman dan pemikiran keislaman Hasyim Asyari sangat dipengaruhi oleh guru utama Syaikh Mahfud At-Tarmizi yang banyak menganut tradisi Syaikh Nawawi. Menurutnya, kembali langsung ke Alqur’an dan Sunnah tanpa melalui para Imam Mazhab adalah tidak mungkin. Menafsirkan Alqur’an dan Hadis secara langsung tanpa mempelajari kitab-kitab para ulama besar dan Imam Mazhab, akan menghasilkan pemahaman yang keliru tentang ajaran Islam.[36]

Sewaktu kongres al-Islam yang ke IV diselenggarakan di Bandung pada bulan Februari 1926, kongres tersebut hampir sepenuhnya dikuasai oleh para pemimpin organisasi Islam modern yang mengabaikan usul-usul pemimpin Islam tradisional yang menghendaki terpeliharanya praktek-praktek kegamaan tradisional (antara lain ajaran-ajaran Mazhab empat, pemeliharaan kuburan Nabi dan keempat sahabatnya di Madinah). Akibatnya KH. Hasyim Asyari melancarkan kritik-kritik yang keras kepada kaum Islam modern, dan sejak permulaan tahun 1926 membentuk Jam’iyah Nahdlatul Ulama sebagai wadah perjuangan para pemimpin Islam Tradisional. Pengaruh KH. Hasyim Asyari yang sangat besar dikalangan kiai di Jawa Timur dan Jawa Tengah menyebabkan para Kiai dan pengikut-pengikutnya segera mendukung Nahdlatul Ulama.[37]

Sebagaimana dirumuskan dalam Anggaran Dasar NU Tahun 1927, organisasi tersebut bertujuan untuk memperkuat kesetiaan kaum muslimin pada salah satu Mazhab empat dan melakukan kegiatan-kegiatan yang menguntungkan para anggotanya, sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain:

(1) Memperkuat persatuan antara sesama ulama yang masih setia kepada ajaran-ajaran Mazhab, (2) Memberikan bimbingan tentang jenis-jenis kitab yang diajarkan pada lembaga-lembaga pendidikan Islam, (3) Penyebaran ajaran-ajaran Islam yang sesuai dengan tuntutan Mazhab empat, (4) Memperluas jumlah madrasah dan memperbaiki organisasinya, (5) Membantu pembangunan Masjid-masjid, langgar, dan Pondok Pesantren dan (6) Membantu anak-anak Yatim Piatu dan fakir miskin. Disamping itu diusahakan pula langkah-langkah untuk mendirikan badan-badan usaha dagang untuk memajukan kehidupan ekonomi para anggota.[38]

Sejak pembentukannya, Nahdlatul Ulama mampu membatasi penyebaran pikiran-pikiran Islam modern kedesa-desa di Jawa yang sejak akhir tahun 20-an tercapai suatu status Quo dimana kaum pengikut Islam modern memusatkan misinya dilingkungan perkotaan, sedangkan NU cukup puas menarik pengikutnya, terutama mereka yang berasal dari daerah pedesaan.[39]

Antara tahun 1945-1947, KH. Hasyim mengeluarkan dua fatwa yang sangat penting. Pertama, ia memfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah Jihad (perang suci) dan kedua, ia melarang kaum muslimin Indonesia untuk melakukan perjalanan Haji dengan kapal-kapal Belanda. Kampanyenya agar kaum muslimin melancarkan perang suci melawan Belanda sangat berhasil. Hal ini disebabkan pengaruhnya yang sangat kuat dan luar biasa dikalangan pengikut Islam tradisional, terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pengaruhnya yang sangat luar biasa tersebut dikarenakan suksesnya mengembangkan Pesantren Tebuireng sebagai pesantren paling besar dan paling penting di Jawa pada abad ke-20 ini. Pesantren Tebuireng ini menjadi sumber ulama dan sumber pemimpin lembaga-lembaga Pesantren di seluruh Jawa dan Madura.[40]

Menurut Dawam Raharjo dalam bukunya Pesantren dan Pembaharuan yang dikutip oleh Abdurrahman Wahid dkk, “Mencatat bahwa lebih dari 200.000 orang berafiliasi kepada Pesantren Tabuireng pada tahun 1974”.[41] Sedangkan menurut Saifuddin Zuhri dala bukunya orang-rang dari Pesantren “menyebutkan bahwa pesantren Tebuireng merupakan kiblatnya pesantren, yang berarti langkah-langkah kebijaksanaan maupun sistem yang dijalankan oleh Pesantren Tebuireng diterima sebagai model oleh pesantren lain”.[42]

 

Perbandingan Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dengan KH. Hasyim Asyari tentang Metode Pendidikan Islam

 

Pemikiran Ahmad Dahlan tentang Metode Pendidikan Islam

Ide pembaharuan yang berhembus di timur tengah cukup menggelitik hatinya, terutama bila melihat kondisi dinamika umat islam indonesia yang cukup stagnan. Untuk itu atas saran bebarapa muridnya dan anggota Boedi Oetomo, maka Dahlan merasa perlu untuk meralisasikan ide pembahruannya melalui sebuah organisasi keagamaanan yang permanen untuk itu, ia mendirikan organisasi Muhammadiyah pada tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta. Tujuan organisasi ini adalah menyebarkan pengajaran Rasullulah kepada penduduk bumiputera dan memajukan hal agama islam kepada anggota-anggotanya.[43]  Untuk mencapai maksud ini, Muhammadiyah mendirikan lembaga pendidikan (tingkat dasar sampai perguruan tinggi), mengadakan rapat-rapat tabligh, mendirikan badan wakaf dan masjid, serta menerbitkan buku-buku, brosur, surat kabar dan majalah. Semestara untuk menumbuhkan semangat petriotisme para anggotanya, organisasi ini membentuk suatu wadah bagi pemudanya melalui hizbul wathan. Dan untuk mewadahi kreatifitas kaum perempuan di bentuk wadah melalui Aisyiyah. Muhammadiyah juga membentuk majlis Tarjih sebagai upaya meminimalkan pertikaian dikalangan umat islam dalam persoalan khilafiyah. Eksistensi majlis tarjih berupaya mengeluarkan fatwa yang kontekstual dan tidak bertentangan dengan ajaran islam.[44]

Keinginan Ahmad Dahlan untuk mendirikan lembaga pendidikan yang menerapkan model sekolah yang mengajarkan ilmu agama islam maupun ilmu pengetahuan umum terwujud pada tahun 1911. Sekolah pertama itu mulai dengan 8 orang siswa, bertempat diruangan tamu rumahnya yang berukuran 2,5 m x 6 m, dan ia sendiri yang menjadi gurunya. Pada tahap awal, proses belajar mengajar belum berjalan lancar, selain ada pemboikotan dari masyarakat sekitar, para siswa yang hanya 8 orang tersebut juga sering tidak masuk sekolah. Untuk mengatasinya Ahmad Dahlan tidak segan-segan datang ke rumah para siswanya dan meminta mereka untuk masuk kembali. [45]

Usaha awal ini belum mendapatkan tanggapan yang baik dari masyarakat seperti tercermin pada sedikitnya jumlah siswa yang mendaftar, kecilnya jumlah siswa yang mendaftar merupakan bukti bahwa pada saat itu masyarakat muslim masih belum banyak mengetahui tentang mamfaat ilmu pengetahuan umum.  Hal itu juga menjadi  bukti bahwa prang-orang islam masih belum dapat membedakan antara ilmu-ilmu dan belanda sebagai agen imprealis. Akibatnya ilmu yang di bahwa oleh belanda tidak  dilihat sebagai sesuatu yang bebas nilai,  tetapi sebagai simbol orang-orang belanda yang kafir. Mempelajari ilmu-ilmu ini dianggap sebagai pada orang kafir yang dilarang oleh agama. [46]

Begitu  gigihnya perjuangan Ahmad Dahlan , hingga membuahkan  hasilnya setelah bekerja keras selama setahun.  Tepatnya tanggal 1 Desember 1911, sekolah  yang didirikannya diresmikan dan diberi nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Ketika diresmikan sekolah itu mempunyai 29 orang siswa. Enam bulan kemudian, terdapat 62 orang siswa yang belajar di sekolah tersebut, dan menjadi sekolah dasar pertama di Yogyakarta yang memberikan pelajaran agama dan ilmu pengetahuan umum. [47]

Ide-ide pembaharuan yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan tertuang dalam gerakan Muhammadiyah. Organisasi ini mempunyai karakter tersendiri sebagai gerakan sosial keagamaan. Titik tekannya mula-mula adalah pemurnian ajaran islam  untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan dalam bidang pendidikan, mencoba melakukan spekulasi dengan menggabungkan ilmu agama dan ilmu  umum.

Gambaran dalam bidang pendidikan diketahui bahwa dunia keilmuan di Indonesia secara tradisonal dimiliki dan diemban oleh pesantren, namun secara pelebaran atau penguasaan ilmu, pesantren lebih mengembangkan misi ilmu agama ketimbang ilmu umum, bahkan penguasaan ilmu agama lebih bersifat tradional. Kemampuan pengembangan ilmu pengetahuan umum secara melebar dengan cara mendirikan sekolah-sekolah modern yang memiliki kelas, sarana belajar yang lebih baik dan,  terpenting masuknya kurikulum umum dalam Madrasah-Madrasah yang di kelola Muhammadiyah. Para siswa dapat bersama-sama bersekolah tanpa terikat jenis kelamin, artinya siswa dan siswi belajar dalam satu ruangan walaupun terpisah bangku-bangku yang mereka duduki. Madrasah dan sekolah Muhammadiyah sangat berperan dalam melebarkan gagasan dan garis cita-cita pendirinya. [48]

 

Pemikiran KH. Hasyim Asyari tentang Metode Pendidikan Islam

 

Hasyim Asyari mendirikan pondok pesantren  yang di kelolanya sendiri di desa Tebuireng, Jombang.  Hasyim Asyari memilih lokasi yang penduduknya dikenal banyak penjudi, perampok, dan pemabuk. Mulanya pilihan itu ditentang oleh sahabat dan keluarganya. Akan tetapi, ia meyakinkan meraka bahwa dakwah islam harus lebih banyak ditujukan kepada masyarakat yang jauh dari kehidupan beragama. Dengan pertimbangan yang demikian itu, maka pada tahun 1899 berdirilah sebuah pondok pesantren di Tebuireng. Bertahun-tahun lamanya ia membina pesantrennya, menghadapi berbagai rintangan dan hambatan terutama dari masyarakat sekelilingnya. Namun pesantren tersebut terus berkembang dengan pesat. Santri yang semula hanya berjumlah 28 orang kemudian bertambah terus  dari tahun ke tahun sampai mencapai ribuan orang. Mereka bukan hanya datang dari daerah yang dekat, melainkan dari berbagai  pelosok tanah air.[49]  

Kehidupan KH. Hasyim banyak tersita untuk membina santri-santrinya itu. Dalam kehidupan sehari-hari ia dikenal sebagai orang yang sangat disiplin dengan waktu, waktunya diatur sedemikian rupa, sehingga tidak  sedikitpun yang berlaku tanpa aktifitas  yang berarti. Biasanya ia terbiasa mengajar sampai larut malam, pada bulan Rammadhan ia mengajar hadis Bukhari dan Muslim yang diikuti oleh santri-santri dari berbagai pesantren untuk mendapatkan ijazahnya.[50]

Pelajaran di Tebuireng pada permulaannya hanya mementingkan pengajaran agama dan bahasa Arab semata-mata, sama juga keadaannya dengan pesantren-pesantren dan surau-surau lain di seluruh Indonesia. Hal ini tidak heran, karena para kiai dan ulama-ulama Indonesia pada masa itu sama-sama belajar di Mekkah bertahun-tahun lamannya, kemudian kembali ke Indonesia mengembangkan ilmu-ilmu yang mereka tuntut di Mekkah itu.[51]

Pendidikan islam sebelum dimasuki oleh ide-ide pembaruan terpusat di pesantren, rangkang, dayah, surau.  Ciri pendidikan di lembaga pendidikan tersebut adalah, pertama non klasikal, kedua, metode sorongan, wetonan, dan hafalan, ketiga materi pelajaran adalah  terpusat kepada kitab-kitab klasik. Tinggi rendahnya ilmu seseorang diukur dari penguasaannya kepada kitab-kitab tersebut.[52]

Menurut Haidar Putra Daulay” Ada beberapa indikasi pendidikan islam sebelum dimasuki oleh ide-ide pembaruan;

  1. Pendidikan yang bersifat non klasikal, pendidikan ini tidak dibatasi atau ditentukan lamanya belajar seseorang berdasarkan tahun. Jadi seseorang bisa tinggal di pesantren, satu tahun, atau dua tahun, atau boleh jadi berapa bulan saja, bahkan mungkin belasan
  2. Mata pelajaran adalah semata-mata pelajaran agama saja yang bersumber dari kitab-kitab klasik, tidak diajarkan mata pelajaran umum.
  3. Metode yang digunakan metode sorongan, wetonan, hafalan, dan Muzakarah
  4. Tidak mementingkan ijazah sebagai bukti yang bersangkutan telah menyelesaikan atau menamatkan pelajaran.
  5. Tradisi kehidupan pesantren amat dominan dikalangan santri dan kiai. Ciri dari tradisi itu adalah antara lain kentalnya hubungan antara kiai dan santri. Hubungan bathin ini berlangsung terus sepanjang masa. Kontak-kontak itulah yang terpelihara sepanjang masa. Santri yang telah menyelesaikan pelajaran disuatu pesantren bisa jadi pindah ke pesantren lain atau mendirikan pesantren baru, namun kontak pribadianya dengan kiai, dimana dia pernah berguru masih tetap terpelihara.[53]

 

Untuk mengajarkan kitab-kitab klasik seorang kiai menempuh metode wetonan, sorongan, dan hafalan. Wetonan atau bandongan adalah metode kuliah di mana para santri mengikuti pelajaran  dengan duduk di sekeliling kiai. Kiai membacakan kitab yang dipelajari saat itu, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan. Sorongan adalah:

Metode kuliah dengan cara santri menghadap guru seorang demi seorang dengan membawa kitab yang akan dipelajari. Kitab-kitab yang dipelajari  itu diklasifikasikan berdasarkan tingkatan-tingkatan, ada tingkat awal, menengah dan atas. Seorang santri pemula terlebih dahulu dia mempelajari kitab-kitab awal, barulah kemudian diperkenankan mempelajari kitab-kitab pada tingkat berikutnya, dan demikianlah seterusnya.[54]

Dari pendapat di atas, dapat dipahami bahwa pesantren tradisional tidak mengenal sistem kelas. Kemampuan siswa tidak dilihat dari kelas ber-apanya, tetapi dilihat dari kitab yang dibacanya. Orang-orang pesantren telah mendudukan derajat ilmu seorang santri, atas dasar tingkatan kitab yang telah dibacanya.

Untuk berjuang mewujudkan cita-citanya dalam bidang sosial keagamaan dan pendidikan, Hasyim Asyari melihat perlu adanya wadah berupa organisasi, agar lebih memudahkan untuk mengembangkan metode pendidikan agama islam. KH Hasyim Asyari bersama dengan KH. Wahab Hasbullah dan sejumlah ulama lainnya di Jawa Timur mendirikan sebuah organisasi Jamiah Nahdlatul Ulama pada tahun 1926. Sejak awal berdirinya KH. Hasyim Asyari dipercaya untuk memimpin organanisasi itu sebagai Rais Akbar . Jabatan ini dipegang dalam  beberapa periode kepengurusan.[55]

Menurut M. Iqbal yang dikutip oleh Akhamad Taufik dkk:

Pemikiran-pemikiran Keagamaan NU cukup menarik, kalau dikatakan termasuk unik. Salah satu yang patut di kemukakan adalah pendapat KH. Mahfudz Siddig yang menganggap ijtihad masih tetap terbuka, dan ulama yang berkompeten serta memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan mempunyai hak untuk berijtihad. Kendati demikian, umat islam umumnya yang merasa hanya perlu bertaqlid kepada mazhab-mazhab yang ada, diharuskan mengikuti pendapat mazhab saja bukan berarti salah. Bukankah pendapat mazhab itu di dasari oleh ijtihad yang disandarkan kepada kebenaran Al-Quran dan Hadis Nabi, dengan demikian berijtihad dan bertaqlid sama pentingnya sesuai kedudukan seseorang dalam penguasaannya di bidang agama.[56]

Pada prinsipnya islam mencela sifat jumud taqlid yang membabi buta, karena islam selalu mendorong umatnya untuk mengembangkan, membangun, dan meningkatkan kreatifitas daya berfikirnya.

 

Perbandingan Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dengan KH. Hasyim Asyari Tentang Kurikulum dan Materi Pendidikan Islam.

 

Pemikiran KH. Ahmad Dahlan Tentang Kurikulum dan Materi Pendidikan Islam.

 

Menurut Ahmad Dahlan “Pengembangan Daya Kritis, sikap dialogis, menghargai potensi akal dan hati yang suci merupakan cara strategis bagi peserta didik mencapai pengetahuan tertinggi, maka ia meletakkan visi dasar bagi reformasi pendidikan islam melalui penggabungan sistem pendidikan modern dan tradisional secara harmonis dan integral.[57]

Berangkat dari gagasan di atas, maka sesungguhnya KH Ahmad Dahlan mencoba melakukan penggugatan praktek pendidikan islam pada masanya. Karena pada waktu itu pelaksanaan pendidikan hanya dipahami sebagai proses pewarisan adat dan sosialisasi prilaku individu maupun sosial  yang telah menjadi model baku dalam masyarakat. Pendidikan tidak memberikan kebebasan peserta didik untuk berkreasi. Hal itu disebabkan karena model pendidikan yang  dilaksanakan boleh dkatakan taqlid kepada apa yang disampaikan oleh para kiai. Kondisi yang demikian menyebabkan pelaksanaan pendidikan berjalan searah dan tidak bersifat dialogis.

Pendidikan Islam hendaknya diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi luhur, alim dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemjuan masyarakat. [58] Hal ini berarti bahwa pendidikan Islam merupakan upaya pembinaan pribadi muslim sejati yang bertakwa, baik sebagai abdi maupun khalifah fi Al-Ardhi. Untuk mencapai tujuan ini, proses pendidikan islam hendaknya mengakomodasi berbagai ilmu pengetahuan, baik umum agama, untuk mempertajam daya intelektualitas dan memperkokoh spritualitas peserta didik. Menurut Dahlan upaya ini akan terealisasi manakala proses pendidikan bersifat integral. Proses pendidikan yang demikian pada gilirannya akan mampu menghasilkan alumi intelektual-ulama yang lebih berkualitas. Untuk menciptakan sosok peserta didik yang demikian, maka Islam hendaknya dijadikan landasan metodologis dalam kurikulum dan bentuk-bentuk pendidikan yang dilaksanakan.

Menurut Abdul Munir Mulkhan yang dikutip oleh Ramayatul dan Samsul Nizar:

Materi pendidikan menurut Ahmad Dahlan adalah pengajaran Alqur’an dan Hadis, membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi , dan menggambar.  Materi Alquran dan hadis meliputi ; Ibadah, persamaan derajat, fungsi perbuatan manusia dalam menentukan nasibnya, musyawarah, pembuktian kebenaran Alqur’an dan Hadis menurut akal, kerja sama antara agama-kebudayaan-kemajuan peradaban-hukum kausalitas perubahan, nafsu dan kehendak, demokratisasi dan liberalisasi, kemerdekaan berfikir, dinamika berfikir dan peranan manusia di dalamnya, dan akhlak (budi pekerti).[59]

Dari pandangan di atas, sesungguhnya Ahmad Dahlan menginginkan pendidikan islam itu dikelola secara modern dan profesional, sehingga pendidikan yang dilaksanakan pendidikan yang dilaksanakan mampu memenuhi kebutuhan peserta  didik menghadapi dinamika zamannya. Untuk itu pendidikan islam, perlu membuka diri, tidak hanya terpaku dan terpasung pada pola lama yang tenggelam dalam kejumu dan (stagnasi), serta terbelakang.

 

Pemikiran KH. Hasyim Asyari Materi dan Kurikulum Pendidikan Islam

 

Dalam membahas masalah ini, KH. Hasysim Asyari banyak mengutip ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan orang ahli ilmu. Tidak cukup hanya ayat-ayat Al-Qur’an, pembahasan dalam bab pertama tersebut dilengkapi dengan berbagai hadis Nabi dan pendapat para ulama, yang kemudian diulas dan dijelaskan dengan singkat dan jelas. Ia misalnya menyebutkan bahwa tujuan utama ilmu pengetahuan adalah mengamalkannya.  Hal yang demikian dimaksudkan agar ilmu yang dimiliki menghasilkan manfaat sebagai bekal untuk kehidupan di akherat kelak mengingat begitu pentingnya, maka syariat mewajibkan untuk menuntutnya dengan memberikan pahala yang besar. Pada bagian lain juga dijelaskan bahwa ilmu merupakan sifat yang menjadikan jelas identitas pemiliknya.[60]

Pada masa ini KH. Hasyasim Asyari masih menggunakan kitab-kitab klasik sebagai pegangan. Kitab-kitab islam klasik  yang lebih populer  dengan nama kitab kuning. Kitab-kitab ini ditulis oleh ulama-ulama islam pada zaman sebelumnya. Kepintaran dan kemampuan seorang santri diukur dari kemampuannya membaca, serta mensyarah (menjelaskan) isi kitab-kitab tersebut. Untuk tahu membaca sebuah kitab tersebut dengan benar, seorang santri dituntut untuk mahir dalam ilmu-ilmu bantu, seperti nahu  syaraf, balaghah, ma’ani, bayan dan lain sebagainya.

Kriteria kemampuan membaca dan mensyarahkan kitab bukan saja merupakan kriteria diterima atau tidak seseorang sebagai ulama atau kiai pada zaman dahulu saja, tetapi juga sampai saat sekarang. Salah satu persyaratan telah memenuhi kriteria sebagai kiai atau ulama adalah kemampuannya membaca serta menjelaskan isi kitab-kitab tersebut.[61]

Karena sedemikian tingginya posisi kitab-kitab islam klasik tersebut, maka setiap pesantren selalu mengadakan pengajian kitab-kitab kuning. Kendatipun sekarang telah banyak pesantren  yang telah memasukkan pelajaran umum, namun pengajian kitab-kitab klasik tetap diadakan.[62]

Gambaran di atas bukan berlaku  untuk seluruh pesantren, ada juga diantaranya yang telah memasukkan ide-ide pembaruan seperti halnya pesantren Tebuireng pimpinan KH. Hasyim Asyari. Di pesantren ini atas dasar inisiatif KH. Muh. Ilyas Keponakannya dan KH. Abdul Wahid Hasyim Putra beliau sendiri telah berupa mengadakan pembaruan atau pesetujuan KH. Hasyim Asyari.[63]

Pembaruan Tebuireng yang pertama ialah  dengan mendirikan Madsarah Salafiyah sebagai tangga untuk memasuki tingkat menengah pesantren Tebuireng. Pada tahun 1929 KH. Hasyim Asyari menunjuk KH. Muh. Ilyas menjadi Kepala Madsarah Salafiyah.[64]

Dengan demikian KH. Muh. Ilyas  dapat melaksanakan hasratnya untuk memperbaharui keadaan  dalam pesantren Tebuireng menurut cita-cita pendidikannya KH. Hasyim Asyari, maka di bawah pimpinan KH. Muh. Ilyas dimasukkan pengetahuan umum kedalam Madsarah Salafiyah yaitu :

  1. Membaca dan menulis huruf latin
  2. Mempelajari Bahasa Indonesia
  3. Mempelajari ilmu bumi dan sejarah indonesia
  4. Mempelajari ilmu berhitung Semuanya itu diajarkan dengan memakai huruf-huruf latin[65].

 

Dari  gambaran di atas, KH. Hasyasim Asyari, awalnya masih mempertahankan pola lama seperti pesanatren pada umumnya, yaitu masih memakai kitab-kitab klasik sebagai pengangan. Akan  tetapi setelah beliau menunjuk KH. Muh. Ilyas, sebagai pimpinan di pesantren Tebuireng, maka ide-ide pembaruan pun dapat di realisasikan dengan memasukan beberapa ilmu umum. Dan  kitab-kitab yang digunakan pun tidak lagi semata-mata kitab-kitab klasik saja, tetapi sudah memakai buku-buku dengan huruf latin.

            Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa perbandingan pemikiran KH. Ahmad Dahlan dengan KH. Hasyim Asyari tentang kurikulum dan materi pendidikan Islam adalah pengajaran Al-Quran dan Hadits, membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi dan menggambar. Menurut KH. Ahmad Dahlan, materi Al-Quran dan Hadits meliputi; ibadah, persamaan derajat, fungsi perbuatan manusia dalam menentukan nasibnya, musyawarah, pembuktian kebenaran Al-Quran dan Hadits menurut akal, kerjasama antara agama-kebudayaan-kemajuan peradaban-hukum kausalitas perubahan, nafsu dan kehendak, demokratisasi dan liberalisasi, kemerdekaan berpikir, dinamika berpikir dan peranan manusia didalamnya, dan akhlak (budi pekerti). Sedangkan KH. Hasyim Asyari masih menggunakan kitab-kitab klasik sebagai pegangan. Kepintaran dan kemampuan seorang santri diukur dari kemampuannya membaca serta mensyarahkan (menjelaskan) isi kitab tersebut. Untuk tahu membaca kitab tersebut dengan benar, seorang santri dituntut untuk mahir dalam ilmu bantu seperti: nahwu, syaraf, balaghah, ma’ani, dan lain sebagainya.

 

Kesimpulan

Dari uraian di atas yang berkenaan dengan perbandingan pemikiran KH. Ahmad Dahlan dengan KH. Hasyim Asyari tentang pendidikan Islam maka dapat diambil kesimpulan dan saran sebagai berikut:

Tujuan pendidikan Islam memurut KH. Ahmad Dahlan adalah untuk memurnikan ajaran Islam dari khurafat, tahayul, dan bid’ah yang selama ini telah tercampur dalam akidah dan ibadah umat Islam, menjadikan pemahaman tentang ajaran Islam semakin mendalam dan komprehensif. Dan jangan hanya terpaku dengan mempelajari kitab-kitab para ulama saja, akan tetapi lakukan penelaahan secara mendalam langsung dari sumber aslinya yaitu Al-Quran dan Sunnah. Ahmad Dahlan juga menghendaki umat Islam haruslah berpikir dengan cara berpikir modernis. Kemudian ia mendirikan lembaga pendidikan yang berorientasi pada pendidikan modern yaitu dengan menggunakan sistem klasikal yang tidak memisahkan pelajaran agama dengan pelajaran umum. Sedangkan menurut KH. Hasyim Asyari jika kembali langsung ke Al-Quran dan Sunnah tanpa melalui ijtihad para imam mazhab akan menghasilkan pemahaman yang keliru.

Metode pendidikan Islam menurut KH. Ahamad Dahlan, mencoba melakukan sebuah spekulasi dengan menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum. Para siswa dapat bersekolah bersama sama tanpa terikat jenis kelamin, Artinya siswa dan siswi belajar alam satu ruangan walaupun terpisah bangku-bangku yang mereka duduki. Sedangkan KH. Hasyim Asyari masih tetap mempertahankan pola lama yaitu sistem tradisional yakni masih memakai sistem halaqah, pendidikannya non klasikal, metode yang digunakan adalah metode sorongan, wetonan, hafalan, dan muzakarah.

Kurikulum dan materi pendidikan Islam menurut KH. Ahmad Dahlan adalah pengajaran Al-Quran dan Hadits, membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi dan menggambar. Materi Al-Quran dan Hadis meliputi; ibadah, persamaan derajat, fungsi perbuatan manusia dalam menentukan nasibnya, musyawarah, pembuktian kebenaran Al-Quran dan Hadits menurut akal, kerjasama antara agama-kebudayaan-kemajuan peradaban-hukum kausalitas perubahan, nafsu dan kehendak, demokratisasi dan liberalisasi, kemerdekaan berpikir, dinamika berpikir dan peranan manusia didalamnya, dan akhlak (budi pekerti). Sedangkan KH. Hasyim Asyari masih menggunakan kitab-kitab klasik sebagai pegangan. Kepintaran dan kemampuan seorang santri diukur dari kemampuannya membaca serta mensyarahkan (menjelaskan) isi kitab tersebut. Untuk tahu membaca kitab tersebut dengan benar, seorang santri dituntut untuk  mahir dalam ilmu-ilmu bantu seperti; nahwu, syaraf, balaghah, ma’ani, dan lain sebagainya.

 

 


 
Daftar Pustaka

Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya, Jakarta: CV Indah Press, 1996.

Anshoriy ch, HM. Nasruddin, Matahari Pembaharuan, Rekam Jejak KH. Ahmad Dahlan, Jogjakarta: Jogja Bangkit Publisher, 2010.

Daulay, Haidar Putra, Sejarah Pertumbuhan Pendidikan Islam di Indonesia Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2007.

Muhammadiyah, Keputusan Muktamar ke 41, Yogyakarta, 1990

Nata, Abuddin, Kapita Selekta, Pendidikan Islam Bandung : Angksa Bandung, 2003.

Nata, Abuddin, Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2005.

Ramayulis, dan Nizar, Syamsul, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam Jakarta: Quantum Teaching, 2005.

Sasminelwati, Materi Pendidikan Agama Islam, Padang : IAIN-IB Press, 2005.

Shihab, M. Qurais, Tafsir Al-Misbah, Jakarta : Lentera Hati), 2002

Taufik, Ahmad,dkk, Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modermisme Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005.

Terjemahan Tafsir Al-Maraghi, Semarang: PT.Karya Toha Putra. 1993

Undang-Undang RI No. Th. 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2003 Cet ke 1.

Wahid, Abdurrahman, dkk, Biografi 5 Rais ‘Am Nahdlatul Ulama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 1995.

Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Hida Karya Agung, 1982.

 

[1] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya, (Jakarta: CV Indah Press, 1996 h. 78

[2] Terjemahan Tafsir Al-Maraghi (Semarang: PT.Karya Toha Putra, 1993) h. 208

[3]  Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahan, Op.Cit, h. 90

[4] Terjemahan Tafsir Al-Maraghi, Op.Cit, h.208

[5] Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahan, Op.Cit, h. 157

[6] Ibid h. 93

[7] Terjemahan  Tafsir Al-Maraghi, Op.Cit, h. 36

[8]  Muhammadiyah, Keputusan Muktamar ke 41, (Yogyakarta, 1990) h. 5

[9] Ramayulis, dan Syamsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam ( Jakarta: Quantum Teaching, 2005 ) h. 204

[10] Ibid. h. 206

[11] Abuddin Nata, Kapita Selekta, Pendidikan Islam ( Bandung : Angksa Bandung, 2003 ), h. 12

[12]  Sasminelwati, Materi Pendidikan Agama Islam, ( Padang : IAIN-IB Press, 2005 ), h. 2

[13]  Undang-Undang RI No. Th. 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), (Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2003) Cet ke 1 h. 5

[14] Abuddin Nata, Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2005) h. 98

[15]  Ibid

[16] Ramayulis dan Syamsul Nizar, Op.Cit,  h. 211

[17]  Abuddin Nata, Op.Cit, h. 112

[18]  Ramayulis dan Syamsul Nizar, Op.Cit, h. 215

[19] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia,(Jakarta: Hida Karya Agung, 1982) h. 235

[20] Ibid. h. 232

 

[21]  Abuddin Nata, Op.Cit, h. 117

[22] Ramayulis dan Samsul Nizar, Op.Cit, h. 206

[23] Ibid

[24] Ibid, h. 207

[25] Departemen Agama RI, Alqur’an dan Terjemahannya, (Semarang: CV. Al-Wqaah), 2004, h. 336

[26] M. Qurais Sihab, Tafsir Al-Misbah, Op.Cit, h. 536

[27] Departemen Agama RI, Alqur’an dan Terjemahannya, Op.Cit, h. 580

[28] M. Qurais Sihab, Tafsir Al-Mubah, Op.Cit, 118

[29] Ramayulis dan Samsul Nizar, Op.Cit, h. 208

[30] Ibid

[31] Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya , Op.Cit, h. 250

[32] M. Qurais Shihab, Tafsir Al-Misbah, Op.Cit, h. 557

[33] HM. Nasruddin Anshoriy ch, Matahari Pembaharuan, Rekam Jejak KH. Ahmad Dahlan, (Jogjakarta: Jogja Bangkit Publisher), 2010, h. 83

[34]  Ramayulis dan Samsul Nizar, Op.Cit,.h. 211

[35]  Ahmad Taufik,dkk, Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modermisme Islam (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada), 2005.h. 140.

[36] Ibid, h. 142

[37] Abdurrahman Wahid, dkk, Biografi 5 Rais ‘Am Nahdlatul Ulama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 1995, h. 14

[38] Ibid, h. 15

[39] Ibid

[40] Ibid, h. 17

[41] Ibid

[42] Ramayulis dan Samsul Nizar, Op.Cit, h. 204

[43]  Ibid.

[44]  Ibid

[45]  HM. Nasruddin Anshoriyeh, Op.Cit.h.55

[46] Abuddin Nata,Op.Cit, h.104

[47]  Ibid

[48]  Akhamad Taufik dkk, Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modermisme Islam, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada). 2005.h. 132

[49]  Abuddin Nata, Op.Cit, h. 122

[50]  Ibid

[51] Mahmud Yunus, Op.Cit, h.235.

[52]  Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta : Kencana Prenada Media Group), 2007.h.50

[53]  Ibid, h. 58

[54]  Ibid. h. 69

[55]  Abuddin Nata, Op.Cit, .h.122

[56] Akhamad Taufik dkk, Op.Cit, h. 143

[57]  Ramayulis dan Samsul, Nizar, Op.Cit, h. 209.

[58]  Ibid, h. 210

[59] Ibid

[60]  Ibid. h. 219

[61]  Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta : Kencana Prenada Media Grup), 2007 h. 64

[62]  Ibid,

[63]  Ibid, h. 73

[64]  Mahmud Yunus, Op.Cit, h. 235

[65] Ibid. h. 236

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *