Mardianton: Pemuda Jadilah Pelaku Perubahan dan Parit Paga dalam Nagari

Pemuda merupakan “Parit Paga dalam Nagari”. Rancak kampuang dek nan tuo, rami kampuang dek nan mudo (bagusnya kampung karena orang yang sudah dewasa, ramainya kampung karena anak-anak muda). Filosofi adat ini tidak akan pernah pudar ditelan masa dikalangan anak muda Minangkabau.

Jika kita menoleh kebelakang, dulu… anak muda di Minangkabau “gadang” (besar) dan belajar di surau (mushalah), disana mereka didik belajar agama, dan disanalah mereka didik belajar persoalan adat dan kebudayaan serta mereka belajar bagaimana menjadi pemuda yang mampu membela anak dan keponakannya kelak ketika dia sudah menjadi seorang mamak (kakak atau adik dari Ibu). Inilah wujud dari “pemuda parit paga dalam nagari“.

Ungkapan pemuda sebagai parit paga dalam nagari bukan hanya sebuah peribahasa adat saja. Namun ini sangat sarat dengan makna. Parit di Minangkabau merupakan sebuah pembatas kepemilikan lahan antara seseorang dengan orang lain. Parit mempunyai jarak dan kedalaman, sehingga manusia dan hama perusak (binatang) sulit untuk memasuki lahan tersebut. Sedangkan paga, merupakan pembatas antara kepemilikan lahan yang satu dengan lahan yang lain. Seseorang harus mendapatkan izin terlebih dahulu oleh pemilik baru bisa memasuki lahan tersebut.

Ketika digabungkan filosofi adat ini menjadi parit paga dalam nagari. Coba kita bayangkan betapa waspada dan hati-hatinya anak muda di Minangkabau dalam menjaga tatanan dan kerukunan hidup berdunsanak, bermasyarakat agar kita selalu dalam keadaan kehidupan Madani. Ini yang akan selalu dipertahankan oleh anak-anak muda Minangkabau, dengan selalu membentengi diri mereka untuk belajar filosofi adat dan  budaya dalam era kemajuan saat ini.

Jika anak-anak muda lengah dalam mempertahankan nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau, maka peribahasa adat “jalan di aliah urang lalu, cupak di papek urang panggaleh” (jalan dipindahkan oleh pendatang, cupak=alat ukur hanya bisa ditentukan oleh para pedagang), suatu saat akan kita dapati, bahkan akan terjadi didepan mata kita sebagai Pemuda Minangkabau.

Cikal-bakal ini akan terjadi, apalagi indikasinya sudah mulai Nampak dan terasa oleh kita. Maka dari itu, kondisi parit pagar dalam nagari ini tentu perlu kita pertahankan sebagai anak muda Minangkabau. Banyak cara yang bisa kita lakukan diantaranya adalah kembalilah kesurau dan masjid atau perkumpulan seni budaya (sanggar seni) yang ada di daerah kita. Jika belum ada, maka sudah menjadi tugas kita sebagai anak muda untuk mewujudkan kembali kesurau dan sanggar-sanggar seni budaya diaearah kita.

Disurau kita belajar mengaji, menggali ilmu yang dalam kandungan al-Qur’an dan hadist, belajar ilmu agama (fiqih dan bermu’amalah) dan materi keislaman lainnya. Disurau kita belajar pepatah dan petitih (belajar berpantun) Minangkabau, kita belajar bela diri (basilek kampuang) kita juga belajar kesenian (tari-tarian tradisi, randai dan ba rabab/biola) dan belajar tradisi Minangkabau lainnya.

“Membangun nagari bersama pemuda” sudah saatnya digalakkan oleh pemerintah daerah di Minangkabau. Sebagaimana dulu para pejuang kita memerdekakan negeri ini dengan gerakan para pemuda. “Beri aku 10 orang pemuda akan aku goncang dunia”, ungkapan Bapak Proklamator kita Ir. Soekarno sekitar 75 tahun yang lalu. Ini tentu menjadi cambuk tersendiri bagi anak-anak muda Indonesia khususnya anak muda Minangkabau untuk tetap menjadi “pelaku Perubahan” dan tidak lagi memposisikan diri sebagai agen perubahan. Karena pelaku perubahan itu lebih baik daripada menjadi agen perubahan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *