Mardianton: Etika dan Estetika

ETIKA DAN ESTETIKA

Oleh: Mardianton

  1. Etika

Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata ‘etika’ yaitu ethos sedangkan bentuk jamak nya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti kata etha yaitu adat kebiasaan.

Arti dari bentuk jamak inilah yang melatarbelakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara epimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Biasanya bila kita mengalami kesulitan untuk memahami arti sebuah kata maka kita akan mencari arti kata tersebut dalam kamus. Tetapi ternyata tidak semua kamus mencantumkan arti dari sebuah kata secara lengkap. Hal tersebut dapat kita lihat dari perbandingan yang dilakukan oleh K. Bertens terhadap arti kata ‘etika’ yang terdapat dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama dengan Kamus Bahasa Indonesia yang baru. Dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama, etika mempunyai arti sebagai : “ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral)”. Sedangkan kata ‘etika’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988), mempunyai arti :

  1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak)
  2. kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak;
  3. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Dari perbandingan kedua kamus tersebut terlihat bahwa dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama hanya terdapat satu arti saja yaitu etika sebagai ilmu. Sedangkan Kamus Bahasa Indonesia yang baru memuat beberapa arti. Kalau kita misalnya sedang membaca sebuah kalimat di berita surat kabar “Dalam dunia bisnis etika merosot terus” maka kata ‘etika’ di sini bila dikaitkan dengan arti yang terdapat dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama tersebut tidak cocok karena maksud dari kata ‘etika’ dalam kalimat tersebut bukan etika sebagai ilmu melainkan ‘nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat’. Jadi arti kata ‘etika’ dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama tidak lengkap. (http://filsafat.kompasiana.com/2009/11/05)

Bertens, berpendapat bahwa arti kata ‘etika’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut dapat lebih di pertajam dan susunan atau urutannya lebih baik dibalik, karena arti kata ke-3 lebih mendasar daripada arti kata ke-1. Sehingga arti dan susunannya menjadi seperti berikut :

  • Nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.

Misalnya, jika orang berbicara tentang etika orang Jawa, etika agama Budha, etika Protestan dan sebagainya, maka yang dimaksudkan etika di sini bukan etika sebagai ilmu melainkan etika sebagai sistem nilai. Sistem nilai ini bisa berfungsi dalam hidup manusia perorangan maupun pada taraf sosial.

  • Kumpulan asas atau nilai moral.

Yang dimaksud di sini adalah kode etik. Contoh : Kode Etik Jurnalistik

  • Ilmu tentang yang baik atau buruk.

Etika baru menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis (asas-asas dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik dan buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat dan sering kali tanpa disadari menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan metodis. Etika di sini sama artinya dengan filsafat moral.

 

Masalah Etika

Etika dan ilmu, pada dasarnya memiliki relasi dalam kesendirian masing-masing. Etika merupakan cabang aksiologi yang pada pokoknya membicarakan masalah predikat-predikat nilai (benar dan salah) dalam arti susila (moral) dan tidak susila (immoral). Etika merupakan suatu tindakan yang dilakukan seseorang terhadap baik dan buruknya apa yang dilakukan. Etika, seringkali berfungsi sebagai sesuatu yang membatasi. Membatasi dalam hal ini memiliki tujuan agar tidak terjadi deviasi nilai dalam sistem masyarakat. Sebenarnya pembenaran atau penyalahan tindakan mempunyai sifat relatif. Karena etika memiliki nilai subyektivitas, mencakup pandangan dan pemikiran individu yang terkadang dianggap berbeda dengan kaum mayoritas yang memiliki regulasi dan penataan yang telah dikukuhkan. Etika adalah ilmu yang reflektif dan kritis. Norma-norma dan pandangan moral dengan sendirinya sudah terdapat dalam masyarakat. Dengan adanya berbagai problem etika yang terjadi dilapangan. Persoalan etika tidak lagi menjadi ukuran bagi manusia dalam melakukan suatu tindakan. Dimana orang tidak lagi memperdulikan nilai-nilai ketika mengambil sebuah keputusan.

Terdapat berbagaimacam nilai yang tidak lagi dapat menjadikan ukuran penilaian dalam melaksanakan suatu tindakan. Norma-norma yang berlaku sudah tidak dapat terlaksana. Norma-norma yang berlaku adalah norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan dan norma hukum. Sehingga terjadi penyalah gunaan kekuasaan, wewenang dan lain sebagainya.

 

Keuniversalan nilai-nilai Etis

Keuniversalan (global) nilai-nilai etis merupakan pendekatan inklusif dalam mencapai nilai-nilai bersama yang mengikat, prinsip-prinsip umum, sikap pribadi dan tindakan bersama yang melintasi budaya, agama, sistem politik dan ekonomi, dan ideologi. Etika ini berlandaskan pada visi etis akan harkat manusia yang melekat, kebe-basan untuk memutuskan nasibnya sendiri, tanggung jawab pribadi dan sosial, serta akan nilai keadi-lan. Secara universal etika mengakui kesaling terkaitan seluruh umat manusia, bersama dengan ciptaan lainnya dan merentangkan lebih jauh sikap moral dasar akan perhatian dan kasih kepada dunia kita. Etika global mengenali persoalan-persoalan serba lintas dan memberi sumbangsih pada pemecahannya.

Etika global juga mendorong pada kepekaan dan kesadaran publik akan nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar tersebut di atas. Semua ini diyakini merupakan dasar di mana kesepakatan universal mengenai hak asasi manusia dibangun. Hak asasi manusia adalah hak yang dimiliki oleh manusia semenjak ia dilahirkan sampai meninggal dunia. Etika Global membangun kepercayaan di antara manusia dan memperkuat perhatian dan tindakan dalam melindungi dunia ini. Berikut ini adalah contoh dari nilai-nilai bersama lintas agama dan budaya:

  • Perhatian dan kasih (Care and compassion) adalah kemampuan untuk berempati, menghormati dan mendukung orang lain. Semangat ini akan mengarah pada solidaritas. Semua agama menekankan pentingnya nilai-nilai semacam ini.
  • Berbagi (Sharing) tak pelak mengarah pada, memampukan dan memelihara hubungan antar manusia dan memperkuat komunitas. Berbagi kekuasaan akan mengarah pada penggunaan kekuasaan yang bertanggung jawab serta berpusat pada komunitas.
  • Partisipasi (Participation), misalnya dalam pengambilan keputusan adalah suatu ekspresi penghor-matan harkat manusia dan penguatan komunitas dengan cara yang inklusif. Berbagi nilai-nilai dalam dialog adalah proses yang berbasiskan partisipasi.
  • Keadilan (Justice/equity) adalah harkat yang paling asasi dari setiap manusia dan tanda hak mereka yang setara dengan orang lain. Keadilan lahir ketika manusia mulai membangun nilai saling men-ghormati. Hal ini jelas dinyatakan dalam nilai keutamaan (golden rule) tentang asas kebersamaan dan asas timbal balik sebagai dasar norma keadilan: “perbuatlah kepada orang lain sebagaimana yang ka-mu inginkan orang lain perbuat padamu.”
  • Keadilan adalah dasar dari solidaritas dan sikap seimbang (fairness). Semua tradisi agama menjun-jung salah satu versi nilai keutamaan ini, yaitu nilai yang berdasarkan timbal balik, empati, penyang-kalan diri, dan gagasan tentang otonomi moral. Semua ini akan memberi jalan pada kerjasama, tidak saja di kalangan sendiri tetapi juga di antara semua anggota kelompok, orang asing, dan seluruh umat manusia.
  • Perdamaian (Peace) adalah syarat keadilan dan pada saat yang bersamaan, buah dari keadilan. Mengejar perdamaian yang menghantarkan juga pada rasa aman adalah motivasi untuk dan tujuan dari berbagi (sharing values).

 

Tanggung Jawab Ilmuwan dan Kaum Terpelajar

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan dibawah naungan madzhab positivistik  melalui -berbagai asumsi, postulat dan konstruk yang dijadikan sebagai bangunan konsepsional dan filsafatnya, tidak lagi dapat dipungkiri, telah memberikan berbagai kontribusi positif dalam hidup dan kehidupan manusia. Di bawah terang pengetahuan bebas nilai, demi memperoleh pengetahuan objektif tentang kenyataan sosial atau “fakta sosial”,  para ilmuwan dapat mengeksploirasi berbagai fenomena tanpa harus terikat dengan perasaan, harapan, keinginan, anggapan, penilaian moral nya.

Pemahaman yang demikian di satu sisi, telah menyebabkan ilmu pengetahuan memberikan berbagai kontribusi positif dalam hidup dan kehidupan manusia.  Akan tetapi di sisi lain, tidak dapat dipungkiri munculnya ekses-ekses negatif dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan berdasarkan madzhab ini yaitu: dehumanisasi, degradasi eksistensi kemanusiaan, dan pengrusakan lingkungan hidup.  Sejarah perjalanan manusia dan kemanusiaan mencatat bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyaknya korban manusia sebagai akibat bom atom yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki, Jepang, atau pun  Afganistan yang menjadi ajang uji coba penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet, memunculkan penilaian tentang pengaruh destruktif dari pemanfaatan teknologi.

Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bebas nilai ini pun kemudian menjadi salah satu penyebab terjadinya kerusakan atau kehancuran ekologi, seperti: kontaminasi air, udara, tanah, dampak rumah kaca, kepunahan spesies tumbuhan dan hewan, pengrusakan hutan, akumulasi limba-limba toksik, penipisan laporan ozon pada atmosfir bumi, kerusakan ekosistem lingkungan hidup, dan lain-lain.

Pada akhirnya ilmuwan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh mengingkari suatu nilai, seperti nilai moral, -religius, dan ideologi. Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri, sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri (dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi). Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut “bayi tabung”.

Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada “bayi tabung” itu, yakni suksesnya para ilmuwan menemukan dan mengembangkan sel punca sebagai bagian dari eksperimen kloningnya. Yang terakhir ini mengubah hakikat manusia secara dramatis; ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu menciptakan manusia juga. Bahkan, ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya, justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan atau teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri.

 

2. Estetika

  1. Pengertian Estetika

Berdasarkan pendapat umum, estetika diartikan sebagai suatu cabang filsafat yang memperhatikan atau berhubungan dengan gejala yang indah pada alam dan seni. Pandangan ini mengandung pengertian yang sempit. Estetika merupakan ilmu yang membahas keindahan, bisa terbentuk dan dapat merasakannya. Pembahasan selanjutnya mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentiment dan rasa.

  1. Seni Sebagai Hasil Kegiatan Institusi serta Pengungkapan Perasaan

Seperti telah diketahui seorang idealis mengutamakan mengutamakan jiwa serta kegiatan-kegiatannya sebagai dasar segenap kenyataan. Apabila seni merupakan kegiatan kejiwaan, tentu orang sepakat bahwa seni bukanlah objek fisiknya, baik kanvasnya, biolanya, warnanya atau suaranya. Menurut Croce yang demikian ini kiranya akan jelas bila disadari bahwa jiwa seni dipandang sebagai objek fisik, maka seni akan menghilangkan pengaruh estetikanya.

Jika seni memang suatu kegiatan kejiwaan, maka kiranya ia perlu dibedakan dari kegiatan-kegiatan kejiwaan yang lain. Dengan demikian apakah seni merupakan pengetahuan? Seni bukan merupakan pengetahuan praktis, karena berlainan halnya dengan misalnya ekonomi atau kesusilaan yang tidak bertujuan memperoleh rasa nikmat serta menghindari rasa sakit. Kenikmatan sebagai kenikmatan bukanlah merupakan sifat seni itu sendiri.

  1. Keindahan Sebagai Rasa Nikmat yang Diobjektivikasikan

Pandangan yang dianut oleh Croce bersifat objektif, karena hakekat seni diletakan pada intuisi serta perasaan seseorang. Sentayana dalam bukunya yang berjudul The Cence of Beauty, juga memandang keindahan dan seni sebagai hal yang berhubungan secara instrinsik dengan manusianya, namun dengan cara yang lain. Dimisalkan anda bertanya pada diri sendiri, “apakah yang dimaksudkan oleh ucapan keindahan yang tidak dicerap?” Kiranya kenyataan pasti menunjukan bila sesuatu objek itu tidak dicerap, maka tidak mungkin objek tersebut dikatakan indah.

Meskipun pengertian yang kita peroleh bila kita mengatakan bahwa seni merupakan rasa nikmat yang diobjektivikasikan, tidak sekabur bila kita mengatakan bahwa seni merupakan hasil kegiatan intuisi dan ekspresi, namun kata “rsa nikmat” perlu memperoleh penjelasan. Apakah seorang pria yang memandang seorang wanita penuh hasrat nafsunya dan memperoleh rasa nikmat begitu rupa dari pengalaman ini, dikatakan menangkap keindahan? Tidak. Saya kira anda mengerti  bahwa pada pokoknya harus ada tolok ukur yang dapat membedakan antara rasa nikmat yang satu dengan rasa nikmat yang lain.

  1. Keindahan Sebagai Objek Tangkapan Akal

Timbulnya keberatan-keberatan terhadap deffenisi keindahan berdasarkan perasaan dan/atau kenikmatan, mungkin menunjukan bahwa teori-teori yang bersangkutan pada dasarnya keliru. Jika keindahan tidak dapat semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang subjektif, maka masih terbuka dua macam kemungkinan:

  1. Keindahan terdapat didalam diri objek sebagai salah satu kualitasnya.
  2. Keindahan hendaknya dicari pada hubungan yang terdapat antara objek dengan manusianya.

 

  1. Seni Sebagai Pengalaman

Pendekatan Dewey terhadap segala masalah didasarkan atas pengalaman hidup orang seseorang, yang didalamnya, sebagai akibat cara pendekatan tersebut, Dewey juga mencari makna keindahan. Tetapi pengalaman hendaknya jangan dipisahkan dari alam lingkungan tempat individu yang bersangkutan berada, karena tidak mungkin ada pengalaman yang terpisah dari suatu keadaan lingkungan tertentu.

 

Bahan Bacaan:

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, PT. Remaja Rosda Karya: Bandung, 2010, h. 14

Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, PT. Rajagrafindo Persada, 2011

The Liang Gie. 1987. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Yayasan Studi Ilmu dan Teknologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *