Mardianton: Peranan Regulasi dalam Mengendalikan Dampak Program Mekanisasi Pertanian Pada Perubahan Sosial Masyarakat Petani

­

PERANAN REGULASI DALAM MENGENDALIKAN DAMPAK PROGRAM MEKANISASI PERTANIAN PADA PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT PETANI DIKECAMATAN RANAH PESISIR KABUPATEN PESISIR SELATAN

 

Oleh: Mardianton

 

Abstarak

Pengolahan lahan pertanian masyarakat Pesisir Selatan khususnya di kecamatan Ranah Pesisir pada awalnya masih banyak dilakukan secara tradisional.Kondisi ini dilakukan, dalam rangka mempertahankan kondisi sosial dan adat budaya mereka.Dan  sekarang sudah mulai hilang digantikan dengan mekanisasi sebagainkecil mereka belum mampu mengolah lahan mereka secara teknologi yang modern karena kekurangan modal. Dengan mekanisasi yang dilakukan pada area pertanian di Keacamatan Ranah PesisrBerdampak kepada perubahan sosial dalam masyaratakat dari data penelitian yang penulis oleh menjadi hasil penelitian teradapat nya kesenjangan sosial ekonomi, pencamaranlingkungan,kriminalitas.

 

Kata Kunci: Pertanian, Mekanisasi, Sosial.

  1. Pendahuluan

Sektor pertanian secara berfungsi sebagai pilar ekonomi Indonesia, yang meliputi berbagai bidang yang berhubungan langsung dengan alam, seperti pertanian, perikanan, dan pertambangan.Aktivitas kehidupan ekonomi yang tidak berhubungan dengan alam seperti pembuatan pakaian, kendaraan, transportasi, bank dan sebagainya.21 Secara umum, dapat dikatakan bahwa sumber daya alam sangat berguna dan membantu manusia apabila dikelola dengan baik.Sebaliknya, iya dapat menjadi sumber malapetaka bagi manusia manakala manusia tidak mampu memngelolahnya dengan baik, misalnya terjadinya lahan-lahan kritis, banjir, kekurangan air di musim kemarau dan lai-lain. Ketergantungan manusia dengan lingkungan merupakan subsistem bagi manusia itu sendiri untuk tetap mampu menyambung hidup mereka, apabila perubahan lingkungan yang kurang baik akan menimbulkan pengaruh negatif terhadap kesejahtraan manusia, dan disinilah kita akan menghadapi apa yang dinamakan permasalahan lingkungan hidup. (Afriva: 22 November 2020)

Pertanian dalam arti luas adalah penerapan karya manusia kepada alam dalam budi daya tumbuhan dan binatang dan penangkapan/perburuan, sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar kepada manusia. (BPS:2012;1). Sedangkan Usaha pertanian adalah kegiatan yang menghasilkan produk pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilproduksi dijual/ditukar atas risiko usaha(bukan buruh tani atau pekerja keluarga). (BPS:2012;4)

Masyarakat petani merupakan masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan dan sekitarnya yang menggantungkan hidupnya di sawah.Masalah yang terjadi pada masyarakat petani merupakan masalah yang bersifat multidimensi sehingga untuk menyelesaikannya diperlukan solusi yang menyeluruh, dan bukan solusi secara parsial.

Bercocok tanam merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh masyarakat petani.Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk musiman bagi mereka yang untuk mengolah sawahnya yang tadah hujan.Sedangkan sawah mereka yang sudah memiliki irigasi yang baik, maka mereka dapat mengatur sendiri kapan waktu yang baik bagi mereka untuk turun kesawah.

Pesisir selatan merupakan merupakan salah satu kabupaten di Sumatera Barat dengan penghasilan masyarakatnya yang didominasi sektor pertanian.Jenis tanaman yang paling besar penghasilannya adalah tanaman padi dengan luas panen 57.834 ha.Produksi yang dihasilkan adalah 431.365 ton/tahun yang tersebar di 15 kecamatan dengan status lahan merupakan kepemilikan masyarakat. (Pesisirselatankab.go.id: 22 November 2020)

Pengolahan lahan pertanian masyarakat Pesisir Selatan khususnya di kecamatan Ranah Pesisir yang terdiri dari 10 (sepuluh) pemerintahan nagari (disamakan dengan pemerintahan desa) masih banyak dilakukan secara tradisional.Kondisi ini dilakukan, dalam rangka mempertahankan kondisi sosial dan adat budaya mereka. Dan sebagain lain dilaksanakan memang karena mereka belum mampu mengolah lahan mereka secara teknologi yang modern karena kekurangan modal.

Padahal sebelum alat-alat teknologi pertanian ini muncul masyarakat petani menggunakan alat-alat tradisonal dalam pengolahan lahan pertaniannya.Alat yang digunakan seperti seperti cangkul, bajak sawah dari kayu dengan menggunakan tenaga binatang seperti sapi, kerbau dan kuda untuk mengolah tanah pertanian. Seiring dengan perkembangan zaman cangkul dan binatang dirasa kurang efektif, dan tenaga yang dikeluarkan tersebut tidak sebanding dengan luas tanah yang akan diolah, dimana dalam hal ini manusia dan binatang mempunyai peranan yang dominan didalam menggunakan mengolah pertanian, sehingga produktifitas kinerja tegantung kepada kekuatan atau tenaga manusia dan binatang saja, selain itu juga membutuhkan waktu yang cukup lama jika lahan yang akan ditanami cukup luas. Sesuai dengan perkembangan teknologi modal tidak lagi dijadikan sebagai penghalang bagi masyarakat pertanian untuk mengolah lahannya dengan menggunakan alat-alat teknomologi seperti hand tracktor, mesin pemanen padi (Power Thresher) dan lainnya.

Dari uaraiandiatas maka dapat di identifikasi masalahnyaTradisi masyarakat petani di kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan.Perubahan sosial masyarakat petani di kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan.Peran regulasi dalam mengendalikan dampak program mekanisasi pertanian pada perubahan sosial masyarakat petani di kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan. Dalam penelitian ini maka dapat dirumuskan b bagaimana regulasi dalam mengendalikan dampak program mekanisasi pertanian pada perubahan sosial masyarakat petani dikecamatan ranah pesisir kabupaten pesisir selatan.

 

2. Metode Penelitian

Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Dalam tulisan yang lain, mengemukakan bahwa “penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel maupun lebih (independen) tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel yanglain”(Darmalaksana, 2020).

Pendekatan dan jenis penelitian ini menggunakan analisis isi (content analysis) kualitatif, maka penelitian dari metode tersebut adalah sebuah metode analisis yang integratif dan lebih secara konseptual untuk menemukan, mengidentifikasi, mengolah, dan menganalisis dokumen dalam rangka untuk memahami makna, signifikasi dan relevansinya(Bungin, 2013).Instrument penelitian merupakan suatu alat yang akan digunakan dalam mengkaji fenomena alam maupun fenomena sosial objek kajian yang akan diamati. Instrumen penelitian bertujuan untuk memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian agar dapat mengumpulkan data secara terstuktur.Instrument penelitian terdiri dari berbagai hal diantaranya adalah pedoman observasi dan pedoman wawancara.Keduanya memiliki kegunaan masing-masing.Pedoman observasi digunakan untuk melihat suatu karakteristik objek pada suatu kawasan, sednaggkan pedoman wawancara digunakan untuk mendapatkan data yang terstruktur dari jawaban dan informasi para responden.Populasi adalah seluruh objek yang akan diteliti. yang dimaksud dengan “populasi adalah sejumlah variabel penelitian yang menyangkut permasalahan yang sedang diteliti atau dengan kata lain populasi identik dengan ruang sampel” (Hasanah, 2017). Sampel adalah bagian dari populasi (cuplikan atau contoh) yang mewakili populasi yang bersangkutan.Sampel merupakan bagian dari populasi (contoh), untuk dijadikan sebagai bahan penelaah dengan harapan contoh yang diambil dari populasi tersebut dapat mewakili (representatif) terhadap populasinya.Kriteria sampel yang diambil harus mewakili keseluruhan sifat-sifat generalisasi yang terdapat pada populasi.

Instrumen penelitian peneliti berusaha mengumpulkan data dan informasi terkait dengan batasan masalah yang menrjadi fokus penelitian.Selama waktu penelitian, peneliti berusaha membangun komunikasi yang efektif dengan mengakrabkan diri dengan upaya orang tua dan sianak memiliki keakraban.Aktifitas yang menjadi informan dengan terbuka memberikan informasi terkait dengan fokus penelitian. Proses pengumpulan data menggunakan beberapa (Aminah, 2019) teknik, yaitu:

Dalam hal ini, peneliti mengambil model ALIR dari Burhan Bungin kutipan dari Miles dan Huberman, sebagai pedoman analisisnya. Model tersebut terdiri dari reduksi data.

 

3. Pembahasan

  1. Teknologi Pertanian

Rahardi (2008),menyimpulkan bahwa teknologi adalah usaha manusia untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan demi kepentingan dankesejahteraan. Teknologi tidak terlepas dari sumber daya manusia dansumber daya alam demi membangun kemandirian suatu bangsa dan inihanya bisa dicapai kalaumasyarakatnya menguasai teknologi. Jadi teknologi pertanian adalah usaha manusia untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan demi kepentingan dan kesejahteraan dalam bidang pertanian.Selain itu, teknologi pertanian ini dalam bentuk lain dibedakan menjadi teknologi p-ertanian tradisional dan teknologi pertanian yang sudah modern. (academia.edu: 22 November 2020)

Teknologi pertanian modern adalah kegiatan pertanian yang menggunakan alat-alat dengan teknologi modern yang digunakan dalam bekerja, dengan menggunakan alat modern dapat mempersingkat waktu dan juga meningkatkan efisiensi dalam bekerja, misalnya dalam bekerja petani menggunakan traktor untuk membajak sawah, di bandingkan dengan cara tradisional dengan kerbau atau degnan cara mencangkul, cara modern lebih efektif dan dapat mempersingkat waktu dalam proses pembajakan. pada umumnya teknologi modernlah yang lebih menonjol, misalnya penggunaan bibit, pupuk dan pemberantasan hama, walaupun dilain pihak peralatan yang mendukung masih berupa alat-alat yang sudah lama dipakai. (Bafdal N, 2008).

Mekanisasi pertanian pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi lahan dan tenaga kerja, meningkatkan luas lahan yang dapat ditanami, menghemat energi dan sumber daya (benih, pupuk, dan air), meningkatkan efektivitas, produktivitas dan kualitas hasil pertanian, mengurangi beban kerja petani, menjaga kelestarian lingkungan dan produksi pertanian yang berkelanjutan, serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani (Salokhe dan Ramalingam 1998). Awal perkembangan mekanisasi pertanian di Indonesia ditandai dengan pemanfaatan alat dan mesin pertanian peninggalan Belanda.

Alat dan mesin pertanian peninggalan Belanda ini kemudian dipindahkan ke Jawa dan digunakan sebagai pengenalan mekanisasi pertanian ke petani. Pada tahun 1950-an mulai didirikan poolpool traktor di berbagai wilayah di Indonesia. Dengan bantuan pool traktor dan alat-alat pertanian ini, dilakukan pembukaan lahan di berbagai daerah. Pada awal-awal perkembangan mekanisasi pertanian ini, Indonesia mengadopsi langsung teknologi dari negara maju, padahal kondisi lahan pertanian kita dan sistem usaha taninya jauh berbeda. Akibatnya, berbagai masalah timbul, seperti batas sawah menjadi hilang dan lapisan bawah yang kedap air rusak.

Harapan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan juga tidak tercapai. Proses alih teknologi seperti ini sering disebut sebagai material transfer. Perkembangan mekanisasi pertanian, khususnya padi, di Indonesia ditandai dengan kegagalan dan keberhasilan. Perkembangan tersebut tidak terlepas dengan perkembangan usaha tani padi dan intervensi serta partisipasi pemerintah dalam upaya mempercepat adopsi teknologi. Pada dekade 1950–1960, mekanisasi pertanian di Indonesia ditandai oleh penggunaan mesin ukuran besar, namun ternyata kurang sesuai dan gagal dengan dilikuidasinya Mekatani (Ananto dan Trip 2012)

Dari tahun ke tahun kemampuan untuk melakukan alih teknologi di bidang alat dan mesin pertanian semakin meningkat. Jika kemampuan ini diukur dengan jumlah produsen dan industri alat dan mesin pertanian, hal ini dapat dijadikan acuan dalam capacity transfer alih teknologi dalam memproduksi teknologi mekanisasi pertanian. Pada tahun 2000 misalnya, terdapat kurang lebih 30 industri menengah dan besar penghasil Alsintan (Anon 2000). Pertumbuhan industri Alsintan Indonesia masih tergolong lambat yang disebabkan karena riset yang masih kurang. Walaupun lembaga riset pemerintah maupun swasta sudah berdiri sejak lama, tetapi interaksi antara lembaga riset dengan industri Alsintan masih kurang. Akibatnya industri Alsintan dalam negeri memilik

2. Perubahan Sosial

Menurut Harper perubahan sosial didefinisikan sebagai pergantian (perubahan) yang signifikan mengenai struktur sosial dalam kurun waktu tertentu. Perubahan dalam struktur ini mengandung beberapa tipe perubahan struktur sosial, yaitu; Pertama perubahan dalam personal yang berhubungan dengan perubahan-perubahan peran dalam individu baru dalam sejarah kehidupan manusia yang berkaitan dengan keberadaan struktur. Kedua, perubahan dalam cara bagian bagian struktur sosial berhubungan. Perubahan ini misalnya terjadi dalam perubahan alur karja birokrasi dalam lembaga pemerintahan. Ketiga, perubahan dalam fungsi struktur berkaitan dengan apa yang dilakukan masyarakat dan bagaimana masyarakat tersebut melakukannya. Keempat, perubahan dalam hubungan struktur yang berbeda. Kelima, kemunculan struktur baru yang merupakan peristiwa munculnya struktur baru untuk menggantikan struktur sebelumnya. (Nanang Martono: 2011; 5)

Perubahan sosial pasti terjadi, meskipun tidak selamanya terlihat mencolok dan berpengaruh pada kehidupan secara luas. Perubahan ini adalah gejala yang normal, seiring dengan perkembangan teknologi yang juga mengharuskan masyarakat penggunanya untuk menyesuaikan diri. Abdullah (2002) berpendapat bahwa perubahan yang terjadi dalam suatu masyarakat ialah penerimaan unsur-unsur baru dalam kehidupan, dimana mereka harus melakukan penyesuaian terhadap ide-ide dan praktek kehidupan baru tersebut. Koentjaraningrat (1986), menyebutkan sebabsebab terjadinya perubahan sosial-budaya antara lain karenakan perubahan demografi, pergerakan dan perubahan sosial dan penemuan-penemuan baru. Penemuan itu sendiri meliputi persebaran kebudayaan (diffusion), inovasi dan evolusi kebudayaan. Perubahan sosial meliputi perubahan pada lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola kegiatan pembangunan yang sedang giat dilakukan di wilayah studi telah mendorong kenaikan harga-harga barang, terutama bahan makanan, perumahan dan upah buruh. Walaupun jumlah penduduk yang diterima bekerja di proyek tidak banyak, namun sub kontraktor yang menjadi rekanan dalam kegiatan proyek menyerap tenaga kerja yang cukup besar.

Pada dasarnya dalam masyarakat manapun senatiasa terjadi proses modernisasi dan prubahan sosial, meskipun kecepatan dan arah perubahannya berbeda-beda. Jika suatu masyarakat bersikap terbuka terhadap hal-hal baru, maka proses perubahan akan berjalan dengan cepat. Perubahan tersebut mencakup berbagai bidang mulai dari aspek sosial, ekonomi, budaya dan politik. (Rosana, 2011). Metode yang paling tepat untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani sebagai hasil dari usaha tani yang ditekuninya masih merupakan debat diantara para ahli. Salah satu indikator/alat ukur yang dapat digunakanuntuk ialah konsep Nilai Tukar Petani (NTP), yang dikembangkan oleh BPS.

3. Masyarakat Petani

Dalam kamus Sosiologi karangan Soerjono Soekanto dikatakan bahwa yang dimaksud dengan petani (peasant) adalah seseorang yang pekerjaan utamanya bertani untuk konsumsi diri sendiri atau keluarganya. (Soerjono Soekanto: 1993; 363)Dalam Kamus Pertanian Umum petani juga memiliki arti yaitu orang yang menjalankan usaha tani dengan melakukan kegiatan pertanian sebagai sumber mata pencarian pokoknya. (Kamus PS: 1013; 104).

Giddens (2006:356) mengemukakan bahwa ide mengenai eksklusi sosial pertama kali diperkenalkan oleh para penulis sosiologi untuk merujuk pada sumber-sumber baru ketidaksetaraan. Eksklusi sosial mengacu pada cara-cara di mana individu dapat terputus dari keterlibatan penuh dalam masyarakat yang lebih luas. Misalnya, orang-orang yang tinggal di perumahan yang bobrok, dengan sekolah-sekolah miskin dan sedikit kesempatan bekerja di daerah itu, dapat secara efektif mengalami penolakan dari kesempatan untuk memperbaiki diri yang dimiliki kebanyakan orang di masyarakat Pada masyarakat eropa, akar konsep eksklusi sosial ini tidak bisa dilepaskan dari kemiskinan yang muncul akibat perkembangan industri dimana tidak semua kelompok masyarakat mendapatkan pekerjaan.

Eksklusi sosial sering kali dihubungkan dengan underclass yang mana Marx (dalam Giddens, 2006:317) menyebut underclass sebagai lumpenproletariat. Yaitu kumpulan dari orang-orang yang secara persisten berada di luar bentuk-bentuk dominan produksi dan pertukaran ekonomi. Gagasan tersebut selanjutnya semakin berkembang dan diterapkan pula pada kelompok-kelompok orang miskin yang berbahaya, pencuri dan gelandangan yang menolak untuk bekerja dan bertahan hidup dipinggiran masyarakat dan menjadi parasit sosial bagi masyarakat.

Kesimpulan dari pemikiran Marx tersebut adalah bahwa eksklusi sosial disebabkan oleh kemiskinan dan underclass. Serupa dengan itu, Aasland dan Flotten (2000) berpendapat bahwa konsep eksklusi sosial tidak lebih ambigu daripada konsep kemiskinan. Mereka berpendapat bahwa ketika konsep ini pertama kali digunakan di Perancis pada tahun 1970-an, itu memperhitungkan orang-orang yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat arus utama dan tahun-tahun berikutnya konsep itu sering didefinisikan ulang dan lebih banyak kelompok dimasukkan, seperti anakanak putus sekolah, pemuda pengangguran dan imigran (Aasland and Flotten, 2000: 1027).

 Giddens (2006:357) menyebutkan bahwa eksklusi sosial adalah konsep yang lebih luas daripada kemiskinan, meskipun kemiskinan itu sendiri termasuk di dalamnya. Eksklusi sosial memfokuskan perhatian pada berbagai faktor yang mencegah individu atau kelompok dari memiliki peluang dari mayoritas penduduk. David Gordon dan rekan-rekannya (dalam Giddens, 2006:357) membedakan empat dimensi eksklusi sosial: kemiskinan atau eksklusi dari pendapatan atau sumber dayayang memadai; pengecualian atau eksklusi dari pasar tenaga kerja, eksklusi atau pengecualian dari layanan dan eksklusi atau pengecualian dari hubungan sosial. Merujuk pada uraian mengenai konsep eksklusi sosial tersebut, Lawang (2014:4) menyimpulkan bahwa struktur sosial, ekonomi dan politik turut berperan dalam memunculkan eksklusi sosial dan underclass. Demikian pula halnya dengan eksklusi sosial yang terjadi di Indonesia juga didasarkan pada asumsi tentang struktur sosial dimana eksklusi sosial tersebut terjadi.

Beberapa hipotesis yang dikemukakan oleh Lawang (2014:5-6) mengenai eksklusi sosial di Indonesia diantaranya underclass atau kemiskinan menyebabkan eksklusi sosial; eksklusi sosial di Indonesia bisa menunjuk pada beberapa satuan sosial seperti : fakir miskin, perempuan, orang lanjut usia, orang hidup di daerah terpencil, terkebelakang, penyandang stigma tertentu (komunis, narkoba, HIV Aids, dll.). Mereka ini tidak dapat berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi sosial politik arus utama; eksklusi sosial daerah perdesaan sudah bersifat struktural, sehingga mempersulit underclass bisa keluar dan sebaliknya orang akan mudah terperosok ke dalamnya. Adapun Gordon (dalam Giddens, 346-7) menyebutkan empat dimensi eksklusi sosial yaitu kemiskinan atau eksklusi dari pendapatan atau sumber daya yang cukup, eksklusi dari pasar kerja, eksklusi pada bidang pelayanan, dan eksklusi dari relasi sosial Tulisan ini menguraikan bagaimana perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat berpengaruh pada perubahan struktur dan selanjutnya mendorong terjadinya eksklusi sosial pada masyarakat petani.

 

Kesimpulan

Dari rumusan masalah regulasi dalam mengendalikan dampak program mekanisasi pertanian pada perubahan sosial masyarakat petani dikecamatan ranah pesisir kabupaten pesisir selatan maka dapat disimpulkan Bahwasanya dari data dan informan bahwasanya luas area pertanian di kecamatan Ranah pesisir yang terdiri dari 10 nagari(desa) dengan tipe iklim tropis panas basah dimana sebagian wilayah merupakan curah hujan 282 mm perbulan dengan jumlah basah 8 bulan, bulan kering 8 bulan ketinggian dari permukaan laut 0-25 m, suhu udara pada siang berkisar 21-27 °C dan pada malam hari 22-24°C.   sebaran area pertanian sebagai berikut:

 

No NAGARI/DESA

LUAS AREA PERTANIAN

ha

1. PASIR PELANGAI 243
2 Sungai Liku Pengalai 287
3 Nyiur Melambai Pelangai 557
4 Koto VIII Pelangai 488
5 Pelangai 286
6 Pelangai Gadang 304
7 PelangaiKaciek 287
8 Sungai Tunu 435
9 Sungai Tunu Barat 154
10 Sungai Tunu Barat 247
Jumlah 3.288

 

Sumber Daya Teknologi

 

No Jenis Teknologi Jumlah
1 Ramu 7
2 Hand Traktor 19
3 Tresesr 10
4 Perontok jagung 3
5 Hand sprayer  771

 

Dariluas area pertanian dan mekanisasi pertanian  tersebutmaka dari sisi positif sangat membantu petani dalam mengelolah lahan pertanian dari sisi ekonomi dan efisiensi waktu. Akan tetapi sangan berdampak kepada perubahan sosial dalam masyaratakat dari data penelitian yang penulis oleh menjadi hasil penelitianteradapat nya kesenjangan sosial ekonomi, pencamaranlingkungan,kriminalitas.

 

Kesenjangan Sosial Ekonomi

Kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi pada area penelitian dapat diartikan sebagai tingkat pertumbuhan sosial ekonomi yangdiakibatoleh mekanisasi pertanian.Hal ini terjadi karena kurang adanya kesempatan untuk memperoleh sumber pendapatan, kesempatan kerja, kesempatan berusaha, dan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan mekanisasi.Berikut faktor-faktor yang mendorong terjadinya kesenjangan ekonomi antara lain.

  1. Menurunnya pendapatan per kapita sebagai akibat pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi tanpa diimbangi peningkatan produktivitas
  2. Ketidakmerataan pendapatan sebagai akibat kebijakan politik dan kekurangsiapan sumber daya manusia
  3. Rendahnya mobilitas sosial sebagai akibat sikap mental tradisional yang menyukaigontong royong dengan mekanisasi persaingan dan kurang usaha

 

Pencemaran Lingkungan Alam

Dengan kecanggihan teknologi era globalisasi, manusia cenderung menguasai alam.Dengan teknologi, manusia bisa mengeksplorasi bahkan mengeksploitasi alam dan tanpa menyadari dampak berupa pencemaran yang cukup besar.

 

Kriminalitas

Salah satu dampak mekanisasi adalah meningkatnya kriminalitas atau tindak kejahatan, baik secara kualitas maupun kuantitas.Mekanisasi yang dilakukan di negara berkembang, seperti Indonesia sering memunculkan masalah-masalah sosial sebagai berikut ;

  1. Menipisnya rasa kekeluargaan
  2. Meningkatnya sikap individualistis
  3. Meningkatnya tingkat persaingan
  4. Meningkatnya pola hidup konsumtif

Arus global mekanisasi juga membawa dampak negative dengan meningkatnya kriminalitas dengan cara-cara yang lebih canggih dan bahkan terorganisisr hingga ke ranah internasional.

 

 

Daftar Rujukan Sementara

 

Alimatus, S. (2020). STUDI INDIGENOUS DENGAN METODE KUALITATIF. eprints.mercubuana-yogya.ac.id. http://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/9103/

Aminah, S. (2019). Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. books.google.com. https://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=qfCNDwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA1&dq=metode+kualitatif&ots=1FPFwHgxaR&sig=hxz9sybkksACcf5ced3KYKAa51U

Afriva, Perjuangan Masyarakat Petani Tambak untuk tetap Survive, file:///D:/DAFTAR%20S3%20UNP/SEMESTER%201/AFRIVA%20HUKUM%20ADMINISTRASI/PAPAER/. 22 November 2020

Badan Pusat Statistik, Konsep dan DefenisibakuStaistik Pertanian, Badan Pusat Statistik, 2012

Bachtiar, W. (2004). Metode Penelitian. Jakarta Logos.

Bafdal, N. Pengantar Teknologi Pertanian 2012. Universitas Padjajaran pdf. NanangMartono, Sosiologi Perubahan Sosial, (Jakarta :Rajagrafindo Persada, 2011)

Bungin, B. (2013). Metode Penelitian Kualaitatif (p. 129). Jakarta : Raja Grafindo Persada,.

Craib, Ian (1986). Teori-teori Sosial Modern. Dari Parsons sampai Habermas. Jakarta: CV. Rajawali.

Darmalaksana, W. (2020). Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka dan Studi Lapangan. Pre-Print Digital Library UIN Sunan Gunung …. http://digilib.uinsgd.ac.id/32855/

Etzioni, Eva and AmiataiEtzioni (1967).Social Change: Sources, Pattern, and Consequences. New York: Basic Books, Inc, Publishers.

Hasanah, H. (2017). Teknik-teknik observasi (sebuah alternatif metode pengumpulan data kualitatif ilmu-ilmu sosial). In At-Taqaddum. journal.walisongo.ac.id. http://www.journal.walisongo.ac.id/index.php/attaqaddum/article/download/1163/932

Heriyanto, H. (2018). Thematic Analysis sebagai Metode Menganalisa Data untuk Penelitian Kualitatif. Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan …. https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/anuva/article/view/3679

Imam Suprayogo. (2002). Metodologi Penelitian Sosial (pp. 10–58). Bandung : PT. Remaja Rosdakarya,.

Krippendorf, K. (1991). Analisis Isi Pengantar Teori dan Metodologis. Jakarta : CV. Rajawali,.

Manzilati, A. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma, Metode, dan Aplikasi. books.google.com. https://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=7FlVDwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PR5&dq=metode+kualitatif&ots=Y61w5mYv9Z&sig=YBHi0otqnMFmVdoXxIlUYFasUcM

Rachmawati, T. (2017). Metode Pengumpulan Data dalam Penelitian Kualitatif. In UNPAR Press. Bandung. abdulhamid.id. https://abdulhamid.id/wp-content/uploads/2020/09/Mengumpulkan-Data-Penelitian-kualitatif.pdf

Pesisirselatankab.go.id, Sektor Pertanian. https://berita.pesisirselatankab.go.id/page/detail/sektor-pertanian, 22 November 2020

Soekanto, Soerjono (1987). Sosiologi, suatu Pengantar. Jakarta: Penerbit CV Rajawali.

Suwarsono, dan Alvin Y. (1991).Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia. Jakarta: LP3S. Taneko, Soleman B. (1993). Struktur dan Proses Sosial. (Cetakan II). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

https://www.academia.edu/31427334/TEKNOLOGI_PERTANIAN, 22 November 2020)

Tim Penyusun Kamus PS, Kamus Pertanian Umum, (Jakarta: Penebar Swadaya,2013), hlm. 104

SoerjonoSoekanto, kamus sosiologi (Jakarta: PT raja grafiando persada, 1993), hlm. 363

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *